Tampilkan postingan dengan label jendela hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Siluet, Palet Warna, Hingga Penyambung Hidup Rakyat


Menjadi sebuah industri film yang hidup di Indonesia tidaklah mudah. Beban yang ditanggung tidaklah sedikit, namun tugas yang dijalankan tak kurang mulia. Setiap fungsinya berhubungan erat dengan bangsa dimana ia bernaung. Sebagaimana pribadi seorang manusia melambangkan asal-usulnya, demikian industri film melambangkan bangsanya. 
Read More..

Rabu, 19 September 2012

SECRET ADMIRE (Penggemar Rahasia)

Terdapat dua jenis penggemar rahasia. Keduanya selalu merespon dengan cepat untuk semua hal tentang kita. Jenis pertama adalah kelompok PRO yaitu mereka yang merespon baik, senang, setuju dan kagum dalam segala hal. Jenis kedua adalah kelompok KONTRA yakni mereka yang merespon buruk, jijik dan tidak setuju, namun diam-diam menerapkan semua pemikiran, perkataan dan perbuatan kita dalam hidupnya. Jadi jangan menepis mereka KONTRA atas hidupmu? Karena mungkin saja mereka adalah SECRET ADMIRE jenis kedua. Read More..

Rabu, 15 Agustus 2012

Apakah Ini Termasuk Isu SARA?

Masih tidak mengerti. Apa yang salah dengan yang 'bukan'?
Read More..

Bonus Perilaku Berjejaring Sosial

foto diambil dari website masing-masing

Social networking atau jejaring sosial telah menjadi bagian hidup, bahkan (rasanya) bagian tubuh bagi manusia abad ini. Dinegara saya Indonesia pun demikian. Lintas usia dan lintas budaya. Saya telah berkali-kali terkejut karena beberapa anak dibawah tujuh belas tahun telah meng'add friend' saya. Hal ini lalu menjadi dilema untuk ditolak karena sesungguhnya mereka masih merupakan keluarga saya. Saya juga pernah menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan beberapa orang yang sudah sangat tua mendeklarasikan akun jejaring sosialnya.

Wabah ini demikian meluas dan orang-orang mulai meresponnya dengan cara berlebih. Sedangkan seperti yang kita tahu, segala sesuatu yang berlebih seringkali tak berakhir baik.


Saya telah memperhatikan sedemikian dan mendapati beberapa perilaku berkembang tanpa dapat kita cegah. Ironisnya banyak pihak tidak menilainya sebagai keistimewaan (meski saya lebih suka menyebutnya berlebihan). Maka saya berpikir untuk mencatatnya sebagai penanda peradaban atau untuk apapun itu. 

Beberapa perilaku berjejaring sosial ini telah mampu membuat saya tertawa, menggelengkan kepala, mengelus dada dan tak pernah berhenti kagum. Saya bahkan pernah melakukan beberapa diantaranya, lalu kemudian malu dibelakang hari. Jadi saya sama sekali tidak mengecam siapapun yang melakukannya. Hanya saja, mungkin harus ada seseorang menulis, agar teman, keluarga dan kenalan saya dapat mulai menyaring hal-hal berjejaring sosial yang mungkin akan mereka tertawakan dimasa depan.

Read More..

Rabu, 15 Februari 2012

Catatan di Bulan Cinta


Bulan Februari pun datang, bulan yang terkenal dengan Valentine's Day atau hari kasih sayang. Saya tidak kenal siapa St Valentino. Tapi saya kenal yang namanya kasih sayang. Bahkan rasanya saya mengenal dengan baik kasih sayang itu.

Saya tidak merasa harus mempersiapkan apa-apa untuk hari kasih sayang ini, sebab saya dan suami merayakan kasih sayang setiap hari. Saya hanya perlu mempersiapkan diri untuk menikmati logo hati teraplikasi dalam coklat, bantal, boneka, cake atau apapun yang tersebar rata di dunia ini. Dapat dikatakan, bulan ini kita akan melihat logo hati dimana-mana.

Read More..

Selasa, 08 November 2011

They Were Never Gave Me A Farewell


cerita foto : Sukabumi, 11 September 2011
Kiri ke kanan : Reza, Ael, Danan, Ira, saya, Christine, Arman, Adi, Dimas



Sudah lebih dari sebulan berlalu, tapi saya tak pernah kehilangan semangat untuk mengabadikan ini dalam sebuah tulisan.

Saya tak akan menemukan cerita ini jika saja saya tidak pernah memutuskan untuk hijrah ke Jogja mengikuti suami yang sudah terlebih dahulu pindah. Kenyataannya saya telah memutuskan hal tersebut, berbulan-bulan sebelumnya. Dan waktu yang tak dapat dihindari pun datang, waktu untuk mengeksekusi keputusan tersebut.

Dua puluh dua Agustus 2011 saya menyampaikan pengunduran diri saya kepada atasan saya, dan Dua puluh enam September berikutnya dapat dikatakan hari terakhir saya berada di kantor terakhir yang telah menjadikan saya seorang pekerja. Dari sanalah kemudian saya akan merintis karir selanjutnya yang bukan sebagai seorang pekerja. Apapun yang akan saya lakukan setelah 'resign', 'hari terakhir' ini tetaplah harus saya hadapi. Dapat dikatakan bahwa ini bukanlah perkara mudah bagi saya, mengingat orang-orang yang akan saya tinggalkan. Saya mengkategorikan mereka sebagai 'teman-teman' dan untuk sementara anda mungkin tidak dapat mengukur kedalaman hubungan itu bagi saya, sampai anda selesai membaca tulisan ini.

Read More..

Selasa, 03 Mei 2011

Mr Someone atau Bapak Seseorang

Pagi ini adalah pagi yang biasa di kantor saya jika saja tidak terselip sebuah cerita pendek yang saya suka menceritakannya sebesar kesukaan saya pada nilai yang dikandungnya.

Berawal ketika saya menghampiri atasan saya (yang adalah seorang expatriat) untuk menyerahkan dokumen. Saat itu atasan saya sedang menuju ruang meeting. Setelah saya menyerahkan dokumen yang dimaksud, beliau mengucapkan terima kasih lalu mampir keruangan dibelakang kami untuk menyapa seorang expatriate lainnya yang juga adalah atasan kami dan menyapa beliau seperti ini;

Read More..

Jumat, 22 April 2011

Seri Negara Dagelan 1 : Ladang Uang Baru

sumber gambar http://pilkadaponorogo.com/
*ilustrasi: http://unlimitedtourism.files.wordpress.com/2009/02/diskusi_wayang1.jpg
Hari ini tentu akan 'terlalu' indah jika saja tidak ada kejadian buruk di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Tapi saya tidak juga menyesalinya karena dengan demikian saya tidak akan terpikir untuk membuat Seri Negara Dagelan ini. Adapun kata dagelan hanyalah sebuah kiasan untuk menyampaikan berbagai kekecewaan dari apa yg terjadi pada bangsa ini. Dalam banyak hal mungkin saya tidak pernah tahu apakah ini dapat membuat perubahan, tapi saya pun tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dengan nasionalisme saya jika hal-hal ini tidak pernah saya tuangkan dari otak saya (minimal dalam bentuk tulisan). Dan kisah ini adalah kisah pertama dari seri 'Negara Dagelan'.
Kejadiannya bermula dari ide saya dan beberapa teman dekat untuk berwisata sederhana ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Hari ini adalah hari libur nasional dan kami terdiri dari beberapa keluarga juga beberapa lajang berkumpul di tempat yang dijanjikan. Setelah beberapa jam melakukan aktifitas di satu tempat, kami memutuskan untuk mengelilingi TMII. Tempat pertama yang menarik perhatian kami adalah Museum Transportasi. Museum Transportasi menyimpan beberapa alat transportasi kuno yag pernah digunakan di negara ini. 

Read More..

Kamis, 14 April 2011

The Precious Day


Hari ini aku akan bercerita (baca:pamer) mengenai suatu hari dalam hidupku. Pagi itu langit tak terlalu cerah dan tak terlalu mendung. Setelah hujan deras mengiringi doa kami malam sebelumnya, maka hari itu Tuhan melukis langit Jogja sedemikian indah khusus untukku (minimal begitu bagiku). Aku kemudian mengangkat tubuhku setinggi mungkin setelah sekian menit menikmati langit yang rasanya sejauh itu… sesuai dengan doaku.
“Nie, ayo cepet mandi. Udah ditunggu periasnya di rumah Ibu.” Jeritan itu datang dari Mama. Jika tadi kusebutkan bahwa saat itu aku berada di Jogja dan sekarang fakta bertambah dengan hadirnya Mama (untuk pertama kalinya) di kota ini, maka tentulah itu sesuatu yang tidak biasa.
Read More..

Sabtu, 06 November 2010

INDONESIA = Cantik Itu Menyakitkan

















Wanita cantik itu telah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi hari baru itu.... Ia keluar dari kamar pagar rumahnya, menghirup sebanyak mungkin udara sebagaimana ia menghirup sebanyak mungkin semangat untuk hari itu. Di ujung jalan ia berbelok dan melewati sebuah rumah dalam tahap renovasi yang dipenuhi pria-pria pekerja bangunan. Tanpa ia mengerti kesalahan apa yang telah ia lakukan, seorang dari pria-pria tersebut memanggilnya dengan siulan rendah. Yang lainnya menambahkan dengan sapaan 'Pagi sayang...' walaupun jelas-jelas mereka tidak saling kenal. Bahkan setelah si wanita berlalu pun ia masih mendengar gumaman tak senohon dan lebih dari itu... apa yang ada dalam pikiran pria-pria pastilah sesuatu yang tak dapat dibatasi oleh si wanita sehingga ia hanya mampu menggidik tanpa mampu membayangkannya. Segala kesantunan telah ia penuhi, namun ia tetap harus menerima itu sebagai sebuah resiko.



'Cantik itu menyakitkan'... kalimat itu mungkin dekat dengan banyak orang. Karena cantik itu sendiri itu ada dimana-mana. Aku menyaksikan bagaimana cantik itu menghiasi beberapa pribadi di sekitarku. Ya, keindahan yang dalam segi praktisnya dilambangkan dalam kata cantik ada dimana-mana. Namun disaat yang sama, kecantikan diikuti resiko yang kerap harus ditanggung oleh sesuatu yang justru diperoleh dari anugrah, tanpa diminta, tanpa didoakan. Pada akhirnya kecantikan justru lebih menjadi dilema bagi pemiliknya untuk mensyukuri atau mencemaskannya.

Tak ada yang menyangkal kecantikan negeri kami... Tak ada yang menyangkal... Aku jamin itu! Itulah sebabnya kami tak ragu untuk mengundang sebanyak mungkin teman mancanegara kami untuk datang dan menikmati negeri kami. Rasa memiliki akan keindahan itu seperti menempel sejak kami meneguk tetesan air pertama negeri ini. Syair-syair lagu kami tak ragu menyebut negeri kami elok... indah.. cantik...


Bahkan waktu pun tak dapat mengubah negeri kami menjadi buruk rupa. Ia hanya kian cantik dari generasi ke generasi. Dan maaf, kecantikannya tak luntur oleh kebobrokan manusiawi penghuninya, kemerosotan ekonomi dan bahkan mundurnya prestasi generasi mudanya. Ia tetap cantik... de veto... maupun... de jure.

Jika seorang manusia cantik diukur dari paras, tubuh dan berbagai aspek lainnya. Maka mari kita buat check list untuk wajah negeri ini... Pantai, laut, gunung, semenanjung, alam bawah laut, curug, air terjun, gua, danau hutan dan sebagainya... Niscaya seluruh check list pun terisi penuh. Satu paket komplit, bisa didapatkan di Indonesia. (Aku menahan napas ketika mengetikan fakta ini... dalam pikiranku terputar slide-slide urutan lansekap itu)

Maka ketika segenap bencana melanda negeri kami... aku kembali mengingat kalimat itu.... 'Cantik itu menyakitkan'. Kenyataannya negeri kami memiliki 8 dari sekian gunung berapi paling aktif didunia yang seluruh aktifitas tektonik maupun vulkaniknya berhubungan dengan Lempeng Eurasia yang terkenal itu. Setiap letusan gunung berapi telah menjadikan tanah kami kian subur.. Tak terkira berapa jenis flora yang dapat tumbuh mengihiasi tanah kami. Setiap gempa telah memahat lansekap kami sedemikian rupa. Bahkan lensa kamera secanggih apapun terpuaskan oleh keindahannya. Seluruh dunia telah mengabadikannya dengan teknologi tercanggih yang mereka punya. Mereka bahkan menguras kantong mereka untuk datang dan melihat.

Read More..

Senin, 04 Oktober 2010

Nilai Sebuah Kerumunan













Gambar disadur dari ananewbie.wordpress.com

Selalu ada yang menarik dari sebuah kerumunan...
Betapa tidak?
Berada di kerumunan sama seperti berada di tumpukan buku kehidupan... yang berarti berada pada jutaan inspirasi dan cerita...

Setiap orang punya cerita... setiap cerita menghasilkan karakter... dan setiap karakter ,menghasilkan respon, penampilan, serta... aura. Jadi... betapa kaya sebuah kerumunan! Ia penuh warna, penuh kreasi, penuh nilai, penuh harapan...

Kerumunan selalu menarik untuk dilihat dengan sebuah kaca pembesar. Cerita yang tersembunyi dari sebuah pribadi hanya dapat dilihat dari sebuah 'kaca pembesar' dari sebuah kerumunan... Jika tidak, maka kerumunan hanyalah sebuah gangguan visual bagi sebagian orang... atau hanyalah sebuah wadah unjuk gigi bagi sisanya..

Read More..

Rabu, 07 April 2010

H.U.J.A.N













Hujan menyirami kota Jakarta sore ini dan aku masih berada dalam ruangan kantorku yang berantakan. Namun entah mengapa tubuh dan rasa ini begitu peka dengan guyuran alami ini dan pikiranku terbang pada suatu masa dimana aku begitu menyintai hujan…

Ketika itu aku masih duduk di bangku SMU. Saat itu aku menempati kamar di balkon rumahku. Kamarku adalah satu-satunya ruangan berpenghuni di balkon itu. Kamar itu memiliki jendela besar yang tak pernah kuberi tirai. Pemandangan di luar jendela itu adalah atap-atap rumah disekeliling dan sebuah lapangan rumput kecil di ujung nya. Tidak ada jendela rumah lain yang terlihat dari jendela itu karena kebetulan saat itu hanya rumahkulah yang memiliki balkon.

Rumahku hanya berjarak tidak lebih 500 meter dari pantai. Itulah sebabnya suhu rumah kami sangat panas jika kemarau melanda. Maka ketika musim hujan turun... aku adalah orang yang paling senang... mengingat pemandangan dari balkon jendela kamarku. Atap-atap rumah dan lapangan rumput yang basah adalah milikku... seorang...

Duduk berjam-jam menikmati hujan adalah kesukaanku saat itu. Sering kali aku membuka jendela kamarku lebar-lebar dan memanjat naik untuk menikmati percikan-percikan air hujan. Lain waktu, aku menikmatinya dengan duduk di tepi meja belajarku yang menempel pada jendela dan menulis berbagai hal yang kusuka. Aku juga banyak melewati peristiwa buruk dan pulih oleh gemuruh hujan diluar jendela kamarku. Waktu itu hujan adalah inspirasiku.

Suatu ketika... aku bahkan menulis sebuah cerpen dari pinggir jendela sambil menikmati hujan. Aku masih ingat judul cerpen itu... ’Mari Dengar Kata Hujan’... cerpen itu kemudian dimuat di majalah sekolah dan dinikmati oleh teman-temanku. Menurut mereka cerpenku sangat unik... terutama judulnya. Aku bahkan lupa alur cerita cerpen itu, aku tak mendokumentasikannya setelah terbit di majalah sekolah. Namun yang kuingat jelas adalah... aku menulis cerpen itu untuk menghargai suasana hujan dari balkon kamarku.

Kini... enam tahun sudah aku meninggalkan balkon dan kamar itu. Keluargaku pindah dari rumah itu setahun setelah aku berangkat ke kota ini dan aku tidak pernah lagi kembali ke balkon itu. Begitu banyak hujan yang kualami di kota ini... namun tidak ada yang seindah hujan dari balkon kamarku.

Hujan dikota ini sama dengan kemacetan berjam-jam, hawa pengap di dalam bis kota atau tak lebih dari (hanya) suara gemuruh dari kamar kost ku yang jauh dari jendela. Aku bahkan lebih sering mengutukinya ketimbang menikmatinya. Aku lupa cara menikmati hujan dan segelintir hal-hal kecil yang dulu pandai kunikmati.

Namun ketika aku ingat balkon kamarku... jendela tanpa tirai yang basah oleh air hujan, atap-atap rumah yang mengkilap oleh air hujan dan rumput basah di lapangan kecil itu. Ketika aku ingat langit kelabu yang membentang pada pandanganku, angin kencang yang membentur-benturkan daun jendela kayu itu, dan percikan air hujan yang menerpa wajahku... Ketika aku ingat kekuasaan ku akan suasana itu dulu... aku kembali dapat menyambut hujan dengan tangan terbuka, persis seperti ketika dulu kuulurkan tanganku keluar jendela kamar dan merasakan tetesan air... tersenyum dan bergumam kembali... hujan telah datang...


Read More..

Kamis, 25 Februari 2010

UP IN THE AIR

















Setelah tak satu orang pun akhirnya mampu menemaniku malam ini, aku memutuskan untuk berjalan sendiri dan menikmati sebuah film yang sinopsisnya menarik bagiku. Tak salah lagi, aku pergi menonton film di bioskop sendiri. Hal ini adalah cukup bagiku untuk mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang disekitarku, oleh mereka yang datang dengan pasangan, anak, teman dan saudara.
Ini bukan untuk pertama kali nya aku melakukan ini, walau aku tak ingat kapan terakhir kali aku melakukannya. Dan aku tak akan pernah merasa harus berhenti melakukannya mengingat apa yang ku dapat kemudian.


Up In The Air mungkin bukan kegemaran para pemburu film, ia bukanlah 'motion picture' sehingga aku tak yakin akan mampu menyedot penonton sebanyak 'The Lighting Thief', bukan juga pemacu adrenalin seperti 'The Wolfman' (mereka adalah tetangga UP IN THE AIR di Hollywood KC 21 Theater). Benar saja, kursi penonton terisi tidak lebih dari setengah jumlahnya.
Pada akhirnya aku mengakui bahwa film ini adalah paket yang pas bagiku, setidaknya untuk kupikirkan sepanjang jalan pulang.

Film ini membawaku pada beberapa episode yang tercatat pernah terjadi dalam hidupku, aku menyebutnya 'kesendirian'... walau aku tahu sebagian orang menyebutnya 'kesepian'. Tak banyak yang mengerti perbedaannya, jadi rasanya film ini mampu bercerita sedikit tentang perbedaan 'kesendirian' dengan 'kesepian'.

Ryan Bingham adalah cermin sebagian besar orang saat ini. Terjebak oleh filosofi yang mendukungnya (baca:menjebaknya) dalam kesendirian. Ia kemudian cenderung tidak menghargai kesendirian dengan menganggap kesendirian hanyalah alat untuk memudahkan hidupnya. Namun pada suatu masa, pilihannya akan kesendirian lah yang mempertemukannya dengan orang-orang yang menyatakan betapa 'kesepian'nya dia.

Ryan Bingham dan kisahnya membuatku tidak memandang buruk kesendirian dan memisahkan kesendirian itu dengan kesepian. Kesendirian bukanlah berarti tidak memiliki siapapun dan apapun. Kesendirian (singleness) berbeda dengan kesepian (lonelyness). Aku merasa perlu untuk menghargai kesendirian itu dengan melakukannya sebaik mungkin dan penuh syukur. Maksudku adalah, banyak orang disekitarku tanpa harus kuketahui siapa dan apa mereka layak merasakan indahnya dampak dari kesendirianku. Mereka layak mendapat perlakuan baik, senyum terbaik, dan sapaan hangat. Aku tak harus memiliki mereka untuk melakukan yang terbaik bagi mereka. Begitulah seharusnya aku menghargai kesendirian, seperti hal nya yang dilakukan Ryan Bingham di akhir kisah ini.

Lalu bagaimana dengan keluarga, teman, pasangan, kekasih??? Dalam perjalanan pulang, ketika aku mampu menghargai kesendirian itu dengan melakukan yang terbaik bagi diriku dan hidupku, aku merasakan dengan seluruh tubuh dan jiwa ku bahwa mereka (keluarga, teman, kekasih) tidak kemana-mana. Ada atau tiadanya mereka disampingku hanya memberiku kesempatan untuk menghargai kesendirian (singleness). Menghargai aku, diriku, tubuhku, hidupku. Dengan demikian aku akan kemampuanku untuk menghargai mereka akan bertambah. Dan aku tahu bahwa aku tidak kesepian (lonely).

Langkahku terasa lebih ringan, senyum ku lebih mudah teripta ketika aku berjalan pulang. Pasangan dan keluarga yang lalu lalang dihadapanku tak lagi membuatku iri. Jakarta yang macet hingga selarut ini tak mampu menghalangi aku berlari kecil. Menikmati kesendirian yang sangat berharga.

Tulisan ini kubuat untuk menghargai setiap orang tersayangku. Ketidakhadiran mereka memberikanku kesempatan untuk merasa utuh.

I am up in the air!!!
Read More..

Selasa, 10 November 2009

DI TITIK MANA?

Seorang teman yang baik hati meminjamkanku sebuah buku berjudul ‘Menulis Secara Populer’ karangan Ismail Marahimin siang ini. Ini adalah buku non fiksi tentang menulis ketiga yang akan ku ‘kunyah’. Pecaya atau tidak, buku-buku fiksi tentang panduan menulis yang kubaca tak pernah berasal dari inisiatifku sendiri. Buku-buku itu dipinjamkan atau diberikan oleh orang-orang yang memperhatikan kegemaranku menulis dan mendukung hal ini. Tentu saja terlepas dari penilaian mereka tentang kualitas tulisan-tulisanku. Sehingga bagiku inilah cara mereka untuk (secara-tidak-langsung) mengkritik tulisan-tulisanku yang minim sekali berdasarkan panduan menulis. (Aku belajar teman-teman, yakinlah!)


Aku langsung membuka halaman ‘Sepatah Kata’ dan muncullah kalimat;

Ada banyak hal yang tidak bisa diharapkan dari buku ini, karena sasaran utamanya adalah orang-orang awam yang sama sekali belum pernah menulis, namun ingin melihat tulisan mereka dimuat di surat-surat kabar dan majalah.

Ahaaaaa.... benar saja!!! Ini adalah buku ketiga yang disarankan orang-orang memperhatikan tulisanku dan ketiga-tiganya adalah buku mengerti di titik mana aku berada dalam perjalanan menjadi seorang penulis yang baik.

Betapa pentingnya mengetahui titik dimana kita berada, sehingga kita tahu bagaimana, kapan, dan kearah mana kita harus melanjutkan perjalanan. Semua harus ada yang memandu, itulah yang seringkali kulupakan. Aku tentu tak ingin hanya sampai pada kelas amatir.

Sementara dari sisi orang lain, untuk mengetahui di titik mana aku berada mereka harus membaca dan mengikuti tulisan-tulisan ku seperti mereka membaca dan mengikuti tulisan-tulisan penulis besar. Dan untuk itulah aku berterima kasih kepada orang-orang telah mau melakukan hal-hal penting untuk membantuku mengetahui di titik mana aku berada.

Read More..

Jumat, 06 November 2009

MASA DEPANlebihkayadariMASA LALU



Hari ini adalah hari penuh semangat diruangan kantorku, 1 November yang lalu Dept Head kami berulang tahung dan beliau mengundang kami semua untuk makan siang di sebuah resto dekat kantor. Undangan ini kami terima beberapa hari yang lalu, maka kamipun diberikan dress code oleh pemilik acara untuk menyemarakkan acara ini. Alhasil semua wanita dalan divisi ini mengenakan baju pink dan semua pria mengenakan baju biru. Aku lantas tak bisa membedakan acara hari ini adalah Birthday Celebration atau Valentine day.

Kami kembali ke kantor sekitar pukul 14.30 WIB. Sesuatu yang tak mungkin terjadi jika saja yang berulang tahun bukan seorang Dept. Head. Masih dalam euphoria hip hip hura... aku pun memindahkan seluruh foto ulang tahun dari setiap anggota divisi yang pernah ku dokumentasikan dan bersemedi cukup lama di dalam memori HP ku. Aku memang sudah lama merencanakan ini, mengingat memori HP ku nyaris penuh oleh foto-foto ulang tahun seisi ruangan ini. Sambil menunggu semua foto-foto itu aku mulai membayangkan reaksi audiens atas foto-foto ini....

Dalam bayanganku, mereka pastilah tak begitu tertarik dengan foto-foto lama. Hari ini adalah hari sukacita, dimana kami baru saja mengabadikan moment-moment terkini dalam pesta kecil ulang tahun atasan kami. Tentulah yang mereka harapkan adalah foto-foto hari ini, bukan foto-foto yang sudah tidak 'up to date' alias hampir 'basi'. Oleh sebab itu dengan sedikit malas aku tetap mempublikasikan foto-foto itu, karena aku sudah malas melihatnya berlama-lama dalam HP ku. Aku sama sekali tak pernah membayangkan... pelajaran yang dapat kuraup dari keputusan sederhana ini...

Lima belas menit berlalu sejak aku mengirimkan email itu dan aku sedang tidak mengharapkan reaksi apa-apa ketika Bu Mei Nie keluar dari ruangannya dan berteriak dengan semangat...

"Hey ada yang tau nggak... kenapa tampang saya begitu waktu Dodo coba jaket kado ultah kita?" serunya. Kalimat itu kemudian disambut dengan berbagai jawaban yang kemudian membuat ruangan ini penuh dengan nostalgia.

"Karena waktu itu Ibu ngotot jaket itu akan kekecilan buat Dodo." kata salah satu temanku.

"Iya yah, waktu itu sih belum kekecilan. Sekarang pasti sudah kekecilan, buktinya Dodo ngga pernah pake lagi." jawab yang lainnya. Yang dibicarakan (Dodo) lantas tersenyum mengiyakan.

"Hehe... emanggg... udah ngga bisa terkunci kancingnya." katanya sambil tersipu...
"Dulu ngga segendut ini ya gue...." katanya kemudian.

"Yaa ampun... gue culun banget ya dulu...!!!" teriak yang seorang lainnya...

Selama kurang lebih 15 menit berlalu dengan penuh kata-kata 'dulu', 'waktu itu', 'coba waktu itu', 'pernah', dan 'untung waktu itu'. Tak ada yang menyadari... aku melihat pelajaran besar dari ini.

Tidak ada orang yang tak tertarik dengan masa lalu. Baik, buruk, menyenangkan, menyedihkan, banyak, dan sedikitnya tetap membuat orang tertarik... dengan atau tanpa ia mengakuinya... Sebagian menganggapnya harus terulang... namun lebih banyak yang berharap tak perlu terulang. Namun apapun itu, masa lalu adalah proses yang tanpanya kita tidak akan menjadi seperti adanya kita sekarang. Tak ada seorangpun dapat menyangkal itu. Masa lalu membuat kita dapat mengukur banyak hal yang ada di depan kita.

Sayang sekali masa lalu adalah 'benda mati', yang keberadaannya tidak bisa menentukan sendiri akan ke kanan atau ke kiri, akan maju atau mundur akan berlari atau berjalan... Ia tidak juga bisa membekukan kita, apalagi membuat kita bergerak lebih cepat..

Jadi adalah bodoh jika kita pikir masa lalu yang buruk dapat membuat kita berhenti menjadi lebih baik dan jika kita pikir masa lalu yang gemilang akan mendongrak kita menjadi lebih baik.

Kita lah yang menggerakkan mesin hidup, bukan masa lalu. Masa lalu tidak dapat membantu sedikitpun. Ia hanyalah pajangan dalam pikiran kita dan dalam segala cara dokumentasi manusia. Sayangnya, kita selalu tertarik dengan masa lalu karena kita pikir ia adalah benda hidup yang dapat menentukan hidup kita.

Masa lalu sebagai wanita cantik, kita pikir akan membuat kita tetap terlihat cantik di masa sekarang. Masa lalu sebagai orang kaya, membuat kita berpikir masih banyak orang yang mengyayangi kita. Masa lalu berada dalam keluarga pas-pas an membuat kita tidak pernah bermimpi untuk menjadi kaya.

Betapa menariknya untuk melihat kebelakang, karena banyak sekali kejadian yang telah kita alami. Kita sering membayangkan betapa KAYAnya masa lalu dengan begitu banyak peristiwa yang ia simpan. Pernahkan kita membayangkan betapa KAYA nya masa depan itu? Dengan peristiwa-peristiwa yang tak dapat kita hitung... mimpi-mimpi yang tak pernah bisa kita batasi, orang-orang yang tak dapat kita hitung akan datang dalam hidup kita. Betapa masa depan itu lebih kaya dari masa lalu. Kita memang hasil dari masa lalu tapi kita tidak selalu sama dengan masa lalu. Mari jadikan masa lalu sebuah pigura indah yang isinya tak lebih baik dari adanya kita sekarang.
Read More..

Kamis, 29 Oktober 2009

SOMETHING MORE IMPORTANT



Setiap saat aku di berikan pilihan, untuk memikirkan apa yang ada di sekitarku atau memikirkan karya-karya Tuhan dalam hidup ku. Sering kali aku terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa, sosok-sosok dan kenyataan-kenyataan.

Kata-kata manusia membelenggu aku, seolah mereka adalah penentu hidup… Padahal, mulut dan lidah mereka pun masih harus bertanggung jawab pada Sang Pemberi Mulut & Lidah. Aku cukup kerepotan dengan itu semua sampai aku tak tahu harus berbuat apa. Tanganku mencari-cari tangan Tuhan, dan ketika aku berhasil menggapainya lalu menoleh padaNya, aku mendapati Ia tertawa geli memperhatikan kelakuanku.


Aku lantas merasa bodoh, lalu Ia menggiring aku pada setiap kenangan yang aku alami bersama Dia. Ketika Ia menarik aku dari jurang keputusasaan, ketika Ia mengapus air mataku, ketika Ia mengangkatku dari satu anak tangga ke anak tangga yang lebih tinggi. Aku juga sampai pada lusian perbuatan mengecewakan yang kubuat, dan mengingat saat Ia menghukumku lalu memaafkanku, kemudian menambahkan dalam hidupku lusinan kesempatan lagi.

Aku lalu menjadi begitu malu dengan perjalanan itu. Dapat kutangkap maksudNya sejauh itu. Betapa aku berharga bagiNya, tak dapat kuragukan itu… Betapa Ia mengasihi aku, rasanya bodoh untuk tak mengakuinya… Betapa Ia menginginkan yang terbaik bagiku, selalu nyata dalam perjalanan hidupku.

Bagaimana mungkin aku mengalihkan pandanganku dari semua berkat itu? Bagaimana mungkin aku bisa membandingkan semua itu dengan satu sampai sepuluh kata yang keluar dari hati-hati yang tidak mengasihiku? Bagaimana mungkin aku peduli pada hal lain sementara hidupku ini terlalu berharga untuk dinikmati?

Langkahku kemudian menjadi begitu ringan. Karena bagiku memikirkan apa kataNya mengenai hatiku jauh lebih penting daripada memikirkan apa kata manusia tentang hatiku.


Read More..

Rabu, 28 Oktober 2009

R.E.S.P.O.N




Aku belajar bahwa hidup adalah rangkaian dari respon –respon yang telah kita buat. Suatu hari aku mendengar dan begitu damai mendengar sebuah kata ‘Bukan tentang Benar atau salah, tetapi tentang Respon’. Sebuah kata yang sungguh-sungguh netral ditengah kekuranganku sebagai manusia. Tak dapat aku bayangkan bagaimana hidup ini jika aku tak mengerti tentang satu pelajaran ini. Aku bersyukur karena menemukan hal ini ketika aku tahu betapa kurangnya aku ini.


Kira-kira begini rumusannya, apapun yang kita alami yang paling penting adalah respon yang kita berikan. Kita bisa saja melakukan hal benar, tapi ketika respon kita salah maka kita jadi pribadi yang salah. Atau kita melakukan hal yang salah, tapi ketika respon kita benar maka kita jadi pribadi yang dapat dibenarkan.

Respon itu ternyata sangat penting dalam semua proses yang terjadi dalam hidup kita. respon adalah siapa kita, respon adalah masa depan kita, dan respon adalah bagaimana orang lain mengingat hidup kita. Sesederhana itulah hidup sebenarnya, sesederhana memilih respon dan merasakan akibatnya. Kita bebas memilih dan menentukan sepeti apa rangkaiannya, sayangnya kita tak dapat menentukan seberapa panjang rangkaiannya. Waktu yang tak dapat kita ketahui, itulah yang membuat kita tidak main-main dengan respon-respon itu. Karena apa gunanya respon-respon yang benar ketika waktu kita habis dan kita sedang memberikan respon yang buruk, seburuk itulah dunia melihat kita.

Di usia ku yang hampir seperempat abad, aku dan begitu banyak orang dengan atau tanpa sadar telah belajar memberikan begitu banyak respon dari ribuan peristiwa dalam hidupku. Aku tak selalu berhasil memberikan respon yang baik, aku seringkali kalah dengan perasaan dan emosiku dan menghasilkan respon yang buruk. Namun secepat itulah aku mendapatkan hasil yang buruk pula. Aku menyebut hari-hari itu pelajaran berharga. Dan aku mulai belajar berkonsentrasi pada respon-responku. Ya, aku memilihnya dengan satu otak, satu tubuh, dan sepasang jari telunjukku. Aku tahu betul setiap resiko dan pilihan yang salah, walaupun untuk respon-respon yang baik aku berharap Tuhan yang memberikan hasilnya sebagai bonus.

Sehingga datanglah hari-hari dimana aku memilih memberikan respon yang baik, dan tak dapat kuungkapkan betapa respon-respon yang baik itu sering kali menanggung resiko yang panjang. Namun aku menyebut respon-respon yang baik sebagai ‘menabur’ yang jelas adalah ‘proyek jangka panjang’. Beberapa belum kutuai, karena mungkin aku menaburnya pada lahan tandus atau berbatu. Sebagian sudah kutuai, dan sungguh tak dapat kuukur manisnya hasil tuaian itu.

Respon-respon yang benar, yang kutabur dilahan-lahan subur…. Atau yang kutabur dilahan tandus, lalu terus-menerus kusirami air…. Aku semakin menikmati itu semua. Dan rasanya terlalu dini bagiku untuk menyerah…. Mengingat hasilnya begitu indah….

Read More..

Senin, 17 Agustus 2009

Hadiah di Hari Kemerdekaan

Dapat dikatakan kisah hari ini adalah hadiah dari Tuhan khusus untukku di hari kemerdekaan negara ku tercinta... Indonesia...
Sebuah minggu siang nan terik yang membawaku pada sepenggal kisah masa lalu bangsaku... Oleh pertemuanku dengan sosok biasa yang mungkin tak dipandang sejarah, namun bagi ku memberi pelajaran berharga tentang arti dari sejarah...



Aku menjejakkan kaki di sebuah rumah mungil di sebuah kawasan yang ku tau adalah pemukiman keluarga angkatan bersenjata negeri ini.... Bukan yang pertama kali aku datang ke daerah ini, namun siapa sangka bawha rumah ini akan menjadi tempat aku belajar dalam hidupku...
Aku telah melihat sosok wanita tua itu saat pintu rumahnya terbuka, tak lama juga bagiku untuk menyadari bahwa ruang tamu itu telah juga menjadi kamar tidur untuk waktu yang lama. Ia menyambut kami dengan senyum sukacita ditengah kerut yang telah menguasai wajahnya... Ibu, begitu aku menyapanya...




Kami lalu larut dalam perbincangan yang tanpa ia sadari telah membuat mata, hati, dan telingaku tertarik untuk mengabadikan perbincangan ini.

Ayahnya dan suaminya adalah bagian dari sejarah negeri ini dan yang membuat wanita ini istimewa bagiku adalah, ia telah menjadi saksi para pejuang itu dan mampu merekam semangat pada jaman itu dalam jiwa wanitanya.



'Bapak saya itu pejuang RI, saya ingat betul... kakek saya yang adalah tentara KNIL sering menurunkan bendera merah putih dari tiang bendera di halaman rumah, namun selalu di naikkan kembali oleh Bapak saya.. Di rumah memang mereka bapak dan anak, tapi diluar mereka adalah musuh.' katanya sambil tersenyum geli mengenang masa itu. "Saya ingat betul suatu waktu di tahun 1945, Bapak saya yang sudah tua memanggil saya sebagai anak paling tua dan mengatakan 'Bapak tidak akan meninggal sebelum Indonesia merdeka, karena itu baik untuk anak mu dan cucu mu'. Dan benar akhirnya Bapak saya menginggal bulan September 1945." cerita itu berhenti dengan kaca di sepasang mata tuanya. Sementara itu dibelahan Indonesia lainnya, seorang pemuda telah bergabung dengan wajib militer untuk merebut kemerdekaan Indonesia, melakukan gerilya dan selamat dari sekian banyak perang menerjang maut.

Ibu lalu jatuh cinta pada pria ini, " Tapi jaman dulu pacarannya ndak seperti jaman sekarang. Jaman dulu kerjaannya nunggu surat dua bulan, deg-degan nunggu kekasih pulang atau sudah meninggal di medan perang." Kami semua tertawa mendengar kisah ini, kami menyadari dimensi waktu yang sama sekali berbeda antar Ibu dan kami. Kami tahu hal demikian dari film-film perang, namun hari ini kami berbicara langsung dengan pelakunya.
Tahun 1957 Ibu menikah dengan pejuang itu, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.





Perbincangan ini kemudian semakin mendalam ketika aku bertanya tentang pengalamannya menjadi istri tentara. "Huah... kenyang ditinggal.." komentar singkatnya ini membuat kami terbahak.


"Yaah... klo ditinggal tugas itu minimal tiga bulan, ndak peduli lai hamil atau baru melahirkan... wess pokoknya ditinggal" katanya sambil memperlihatkan barisan gigi sehatnya yang tak lagi lengkap.



" Suami saya itu angkatan tapi jujur... makanya yaa... cuma ada rumah dinas ini... klo rumah dinas ini diambil yo sudah... ndak ada tempat tinggal lagi."
kami semua terdiam untuk pernyataan ini.

Aku lalu mengalihkan pembicaraan pada sebuah foto yang tergantung didinding, "Itu suami saya, dan itu medali gerilya nya." Katanya sambil menunjuk pada medali yang dimaksudkan. "Wah berarti Ibu selalu ikut upacara detik-detik proklamasi ya di istana?" sambarku.
"Oh iya... tapi suami saya klo ikut upacara disana selalu nangis, dia inget waktu berjuang dulu." katanya sambil berkaca-kaca kembali. "Dulu mah orang jadi tentara untuk bela negara, tapi sekarang kebanyakan orang jadi tentara untuk bela kepentingannya sendiri." katanya sinis.

Ketika pembicaraan kami mengalir pada masa akhir hayat suaminya, wajah tua itu pun semakin sedih. "Suami saya meninggalnya baru tahun 2004, beliau pensiun dengan pangkat yang lumayan tinggi. Tapi karena beliau jujur jadi tidak banyak hartanya. Di sisa umurnya, dia sering mengusap-usap kepala saya dan berkata 'kasihan Ibu, jadi istri Bapak... jadi ndak pernah bisa jadi orang kaya'. Saya bilang, saya ndak pernah minta kaya kok Pak, saya sudah cukup bangga bisa jadi anak pejuang terus jadi istri tentara negara."

"Bapak dan suami saya sudah selesai dengan tugasnya, tapi kenapa yah anak dan cucu saya tetap saja sulit untuk sekedar dapat pekerjaan. Ternyata merdeka saja tidak cukup ya."

Kami semua tak mampu berkata-kata untuk ini...




Aku mengakhiri pertemuan sore itu dengan menyusuri tatapanku pada setiap sudut rumah dinas tua itu. Kesederhanaan yang menyimpan jutaan sejarah dan sejuta harapan. Rasanya lebih nyata dari sekedar menonton film perjuangan dan menyanyikan lagu kebangsaan. Inilah keadaan kemerdekaan itu ditangan para aktor dan para penontonnya. Sejuta pesan yang tak dibangun oleh satu atau dua hari setelah proklamasi. Melainkan dibangun oleh pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, diajarkan oleh banyak guru dan diterima oleh begitu banyak murid dari masa ke masa.

Saat kami pamit, Ibu Odelia (begitu namanya) membungkuskan bagi kami begitu banyak banyak pelajaran dan harapan. Kecantikan lawasnya sarat makna, membuat ia begitu berharga di masa ini...

Entah berapa banyak saksi sejarah yang dibutuhkan, untuk membuat sebuah kemerdekaan berharga bagi generasi ke generasi...


Read More..

Senin, 22 Juni 2009

my family - my adventure

Ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih dalam hidup...
dan KELUARGA adalah salah satunya...
Ketidakberdayaan untuk menentukan orang2 pertama dalam hidup kita inilah yang melatih kita menerima orang-orang berikutnya...
Aku menulis setiap karakter orang-orang istimewa ini dalam setiap gambarnya...

Meng'klik setiap foto yang ingin anda ketahui... akan menuntun anda menemukan sejarah dan mengenal pribadi dalam setiap gambar!





---------------------------------------------------------------------------------
Dua orang lelaki dari Tiga orang lelaki yang akan tinggal tetap dalam hidupku...
Joice Herman Sigar (satu2nya papa biologis ku)
Capri Bill Sigar (the one and only brother)
Yang satu lagi belum ku temukan... tapi akan segera ku paksa berfoto dengan yang dua ini begitu aku menemukannya.
Karena dialah yang akan menghapus Sigar dari Chonie Prysillia Sigar... =)
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Hampir saja aku jadi anak tunggal kalu saja beliau tidak lahir saat aku berumur sembilan tahun.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Entah berapa umurnya saat foto ini dibuat. Tergantung di ruang tamu kediaman keluarga Sigar, desa Kauditan. Setelah sebesar ini, baru kali ini aku melihat sisi lain dari Pria ini. Kupikir, dengan kerut-kerut kelelahan dan lekuk rahang super tegas yang menghias wajah tuanya, ia tak pernah muda.
Aku salah, semua yang ia alami dalam hidupnya memakan masa muda itu. Baik atau buruknya, aku bersyukur mampu mengasihinya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Karena lebih dari apapun yang ada dalam doaku, ia menempati posisi pertama.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Bayangan hidup buatku...
Aku hampir tidak pernah ingin memiliki hidup seperti hidupnya...
Tapi tanpa aku sadari... Hidupnya yang membentuk hidupku...
Dan semua sikapnya, reaksinya... Jalan pemikirannya.. ada dalam sikap-sikapku, reaksi-reaksiku dan sebagian besar jalan pemikiranku.
Kini, saat ia semakin sering berbagi pendapat denganku, ia mengira aku telah dewasa...
Ia tidak menyadari.. bahwa sebagian besar, aku menyonteknya...
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Empat orang yang jadi pertimbangan dalam setiap langkah hidup.
Foto ini adalah satu-satunya foto keluarga yang aku, atau bahkan yang keluarga ini miliki.
Apapun fakta yang terbersit dari kenyataan ini, aku percaya bahwa setiap keluarga punya kisah masing-masing. Dan kisah keluargaku adalah istimewa. Paling tidak untuk hidupku yang istimewa ini.
Ini semua dalam arti yang sebenarnya, bukan makna kiasan atau lambang ke-skeptis-an ku. Karena sungguh, akhir-akhir ini aku tak ingin kisah keluarga ini digantikan oleh kisah apapun dalam hidupku.
Siapa Chonie? Seperti apa dia?
Seperti pribadi yang dibentuk, baik sengaja maupun tidak sengaja, oleh keluarga Sigar - Tengker.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Pernikahan ini mungkin bukan yang terbaik di dunia ini...
Tapi pernikahan ini... dengan sejarah yang ia hadirkan akan melahirkan sebuah pernikahan indah yang penuh pelajaran 'dari-generasi-ke-generasi'...
yaitu pernikahanku...
---------------------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------------------
Opa & Oma... Papi & Maminya Pak Joice Herman Sigar. Setelah bertahun - tahun tidak bertemu, 2 jam ini sangatlah berarti.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Yang tersisa dari dua orang orang tua mama. Yang satu lagi sudah bersama Bapa disurga 11 Mei 2007 yang lalu. Dan foto ini adalah kunjungan Opa yang pertama ke Jakarta setelah Oma pergi. Pernah melihat pria yang begitu tergantung dengan istrinya? Pria inilah salah satunya. Air matanya tak pernah habis, meski ia berada ribuan kilometer dari makam istrinya.
Suatu hari, saat aku meninggalkan suamiku kerumah Bapa, akankah aku meninggalkan suami seperti ini?
Read More..