Tampilkan postingan dengan label jendela referensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela referensi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Ronggeng Dukuh Paruk; Sebuah Resensi Pribadi

Apakah kalimat ini terdengar tak asing bagi anda? Tentu saja. Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel yang menginspirasi sebuah film berjudul 'Sang Penari' yang baru-baru ini menjadi buah bibir dan menuai banyak penghargaan di salah satu ajang apresiasi film nasional. Pemeran utama wanitanya (Prisia Nasution) juga ikut-ikutan menuai banyak pujian akibat peran 'ronggeng' nya di film ini. Walaupun sangat disayangkan pujian itu hanya bertahan beberapa minggu karena ternyata masyarakat lebih tertarik membahas kasus perceraiannya.

Jika anda sudah 'dong' mengenai buku yang saya maksud, maka saya akan memperlengkapinya dengan dua buah gambar cover buku tersebut (sebelum dan sesudah film dirilis) di bawah ini;


Anda yang sering ke toko buku pasti mengetahui kedua buku yang hanya berbeda gambar sampul ini, karena saat ini buku ini ada dalam susunan buku-buku 'rekomendasi' pada toko-toko buku terkemuka di Indonesia. Percayalah bahwa hal ini tidak terjadi sebelum filmnya dirilis. Buku ini hanyalah bagian kecil dari deretan novel-novel lokal, pada bagian 'rak' yang tidak strategis. Ia bergabung dengan kisah-kisah pewayangan dan literatur lokal yang tak banyak dilirik orang. Bukankah hal ini wajar terjadi di tanah air kita ini? Masyarakat yang telah terbiasa menjadi Thomas yang 'tidak percaya sebelum melihat'.

Read More..

Kamis, 25 Februari 2010

UP IN THE AIR

















Setelah tak satu orang pun akhirnya mampu menemaniku malam ini, aku memutuskan untuk berjalan sendiri dan menikmati sebuah film yang sinopsisnya menarik bagiku. Tak salah lagi, aku pergi menonton film di bioskop sendiri. Hal ini adalah cukup bagiku untuk mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang disekitarku, oleh mereka yang datang dengan pasangan, anak, teman dan saudara.
Ini bukan untuk pertama kali nya aku melakukan ini, walau aku tak ingat kapan terakhir kali aku melakukannya. Dan aku tak akan pernah merasa harus berhenti melakukannya mengingat apa yang ku dapat kemudian.


Up In The Air mungkin bukan kegemaran para pemburu film, ia bukanlah 'motion picture' sehingga aku tak yakin akan mampu menyedot penonton sebanyak 'The Lighting Thief', bukan juga pemacu adrenalin seperti 'The Wolfman' (mereka adalah tetangga UP IN THE AIR di Hollywood KC 21 Theater). Benar saja, kursi penonton terisi tidak lebih dari setengah jumlahnya.
Pada akhirnya aku mengakui bahwa film ini adalah paket yang pas bagiku, setidaknya untuk kupikirkan sepanjang jalan pulang.

Film ini membawaku pada beberapa episode yang tercatat pernah terjadi dalam hidupku, aku menyebutnya 'kesendirian'... walau aku tahu sebagian orang menyebutnya 'kesepian'. Tak banyak yang mengerti perbedaannya, jadi rasanya film ini mampu bercerita sedikit tentang perbedaan 'kesendirian' dengan 'kesepian'.

Ryan Bingham adalah cermin sebagian besar orang saat ini. Terjebak oleh filosofi yang mendukungnya (baca:menjebaknya) dalam kesendirian. Ia kemudian cenderung tidak menghargai kesendirian dengan menganggap kesendirian hanyalah alat untuk memudahkan hidupnya. Namun pada suatu masa, pilihannya akan kesendirian lah yang mempertemukannya dengan orang-orang yang menyatakan betapa 'kesepian'nya dia.

Ryan Bingham dan kisahnya membuatku tidak memandang buruk kesendirian dan memisahkan kesendirian itu dengan kesepian. Kesendirian bukanlah berarti tidak memiliki siapapun dan apapun. Kesendirian (singleness) berbeda dengan kesepian (lonelyness). Aku merasa perlu untuk menghargai kesendirian itu dengan melakukannya sebaik mungkin dan penuh syukur. Maksudku adalah, banyak orang disekitarku tanpa harus kuketahui siapa dan apa mereka layak merasakan indahnya dampak dari kesendirianku. Mereka layak mendapat perlakuan baik, senyum terbaik, dan sapaan hangat. Aku tak harus memiliki mereka untuk melakukan yang terbaik bagi mereka. Begitulah seharusnya aku menghargai kesendirian, seperti hal nya yang dilakukan Ryan Bingham di akhir kisah ini.

Lalu bagaimana dengan keluarga, teman, pasangan, kekasih??? Dalam perjalanan pulang, ketika aku mampu menghargai kesendirian itu dengan melakukan yang terbaik bagi diriku dan hidupku, aku merasakan dengan seluruh tubuh dan jiwa ku bahwa mereka (keluarga, teman, kekasih) tidak kemana-mana. Ada atau tiadanya mereka disampingku hanya memberiku kesempatan untuk menghargai kesendirian (singleness). Menghargai aku, diriku, tubuhku, hidupku. Dengan demikian aku akan kemampuanku untuk menghargai mereka akan bertambah. Dan aku tahu bahwa aku tidak kesepian (lonely).

Langkahku terasa lebih ringan, senyum ku lebih mudah teripta ketika aku berjalan pulang. Pasangan dan keluarga yang lalu lalang dihadapanku tak lagi membuatku iri. Jakarta yang macet hingga selarut ini tak mampu menghalangi aku berlari kecil. Menikmati kesendirian yang sangat berharga.

Tulisan ini kubuat untuk menghargai setiap orang tersayangku. Ketidakhadiran mereka memberikanku kesempatan untuk merasa utuh.

I am up in the air!!!
Read More..

Selasa, 22 September 2009

Mudik Sungguh Tak Asik

Aku tak menyesali hari dimana aku tertarik untuk merasakan mudik lebaran. Sebuah fenomena yang (rasanya) hanya ada di Indonesia. Bagaimana suatu bangsa dapat disibukkan oleh fenomena ini... Mempengaruhi siklus perputaran uang negara, stabilitas keamanan negara, menentukan penyebaran penduduk dan banyak dampak lainnya. Aku sunggung ingin mendekatkan teropong ku untuk fenomena ini, melewati pengetahuanku tentang MUDIK yang kudapatkan di televisi.






Aku lalu memulai perjalananku dari Jakarta, jalur yang kupilih adalah jalur selatan karena sepengetahuanku jalur utara adalah sebuah jalur lurus dan sangat membosankan. Rasanya sangat ringan untuk memulainya, aku tak henti-henti bersenandung membayangkan alam yang akan ku tonton dan kota-kota menarik yang akan kusinggahi. Rasanya begitu bersemangat hingga kudapati pengalaman - pengalaman berikut.

Disetiap kota pastilah terdapat pasar tumpah / pasat kaget yang menyebabkan kemacetan hingga lebih dari 10km. Perilaku barang bawaan pemudik yang sungguh membuatku mengurut dada karena 'harta' mereka itu dimuat semuanya ke atas sepeda motor mereka dan dengan sama sekali tidak memperhitungkan keamanan mereka membawa anak - anak mereka untuk perjalanan berliku dan bermedan seram serta jarak yang tak kurang dari 200km.







Kelelahan yang kualami tentulah mereka alami... karena dapat dikatakan semua orang bergerak ke timur. Terdapat beberapa kota dimana semua pemudik harus melewati jalur itu sehingga terjadi kemacetan yang .... Oh tak dapat cukup kupaparkan dengan kata-kata... Kemacetan tak berujung dengan kondisi jalan yang sering rusak dan berliku... Semua jenis kendaraan ada disana, berbagai jenis nomor kendaraan menandakan pemudik yang (rasanya) berasal dari seluruh Indonesia. Alhasil kemacetan seperti ini dapat terjadi selama lebih dari 6 jam perjalanan dan dapat terjadi siang hari dan... yang tak terbayangkan... pada malam hari.




Sedikit lega rasanya mengingat di setiap kelelahan dan perhentian ada wagra setempat yang dapat meraih rejeki lewat makanan, minuman, tempat peristirahatan dan tentu saja... toilet.

Ketika aku mengakhiri perjalanan panjang itu... Tak dapat ku mengerti setiap orang melakukannya selama bertahun-tahun dan dengan kondisi mudik yang semakin buruk dari tahun ke tahun. Hanya untuk bertemu dengan keluarga dan orang-orang terkasih atau apapun motivasi penting yang dibawa dari Jakarta. Apakah lelah setahun dapat terhapus oleh lelah perjalanan mudik? Apakah pencapaian setahun dapat dilukiskan dengan dua hari berkumpul?

Sementara aku berhenti pada kata... KAPOK
Read More..

Senin, 22 Juni 2009

Finished, I have to STOP asking...

Dua hari bersama Edward (Eddie), dalam mempelajari banyak hal yang terjadi dalam hidupnya membuatku kembali menaikkan tarif makna hidup yang sudah mulai jatuh harga karena rutinitas dan waktu yang bergerak cepat. Aku memperlambat langkahku. Tuhan rupanya setuju dengan membuat hari libur untuk kuliahku yang padat. Dan.... Oh, Jakarta dengan keajaiban lebaran yang benar-benar mampu membuat aku menarik napas dan memandang sekeliling.

Beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri, saat lebih dari separuh penduduk kota ini kembali ke kampung halamannya masing-masing, Jakarta seperti tersulap malaikat ketenangan. Seperti anak kecil yang takjub melihat pesawat yang terbang rendah, aku hampir menjulurkan kepalaku keluar dari jendela KOPAJA 612, saat ia melenggang bak peragawati disepanjang Mampang, melewati fly over tanpa mengambil napas dan membusungkan dada pada MT Haryono. Pemandangan yang takkan terjadi mulai hari senin. Metromini dan semua kendaraan umum bergerak dalam kecepatan tinggi dan menggoncang-goncang penumpang didalamnya, saking kosong isinya. Aku baru menyadari betapa bobroknya kendaraan yang aku tumpangi setiap hari disaat-saat seperti ini, tapi aku tidak lagi peduli.

Aku berhenti bersungut-sungut tentang kota ini. Seperti Ruby Pier, yang ternyata adalah surga bagi Eddie diujung hidupnya. Aku melihat kota ini sebagai sumber semua lampu-lampu pijar yang kapan saja muncul dari otakku. Aku berhenti bertanya mengapa aku harus ada di kota ini? Aku benar-benar berhenti bertanya....

Kemarin, aku menemani dua orang ibu yang dalam waktu singkat melupakan tujuan mereka (membeli beberapa baju kerja di butik langgananku) ketika melewati toko baju anak. Mereka berhamburan masuk ke dalam toko, dan dalam sedetik larut dalam memilih-milih baju-baju anak. Ya, mereka adalah ibu-ibu dengan (paling banyak) dua anak. Setengah jam berlalu dan mereka belum selesai. Aku memilih untuk duduk ditangga karena lelah berdiri, sungguh bukan karena bosan. Karena aku menikmati apa yang mereka lakukan, sebagai bahan imajinasiku.

Aku ada disaat ini, tidak mengetahui mengapa aku harus menjadi satu-satunya wanita yang belum berkeluarga di kantor ini. Tidak mengetahui mengapa aku harus bekerja disini. Banyak orang bergerak didepanku, melakukan semua hal yang belum dapat atau tidak dapat kulakukan.

Seperti Eddie, banyak hal dalam hidup yang baru dapat kita mengerti lama setelah hal itu terjadi atau di akhir hidup kita. Tidak ada yang kebetulan, dan tidak ada yang tak berguna. Aku menghargai setiap detiknya. Hari ini, aku bukan seorang ibu untuk menyaksikan, menyaring, mengambil apapun makna dari ibu-ibu yang lain. Aku berhenti bertanya tentang itu..... Aku tidak akan pernah mengerti sebelum waktunya aku mengerti.

Seperti perpisahannya dengan Marquiritte, aku memandang begitu banyak pertanyaan mengapa aku harus kehilangan impian-impianku dengan orang yang sangat-sangat aku cintai. Aku meneliti setiap pertanyaan-pertanyaan itu. Aku mendapati bahwa aku selalu berusaha memberikan jawaban sendiri untuk setiap pertanyaan dan karena ketidakpuasanku, selalu ada pertanyaan selanjutnya.

Aku kembali sadar bahwa... Aku harus berhenti bertanya. Karena aku berhak mendapatkan jawabannya disaat yang tepat.

Thanks Mitch......

Congratulations Eddie... what a great life !

i have one here...

my life...
Read More..

Five People You Meet In Heaven



Kemarin, dua orang jadi saksi transaksiku dengan salah satu toko buku ternama Indonesia cabang Pondok Indah Mal untuk buku ini. Tarida, sepupuku yang pada saat yang sama hampir saja membeli novel lokal berjudul '5 cm', namun meletakkannya lagi karena mempertimbangkan ketebalan dan bobot buku yang hari -hari ini sedang tidak mampu ia cerna. Dan Yoel, teman kampusku yang sibuk mencari buku pengantar komunikasi, yang sebenarnya JUGA kubutuhkan, namun rasanya cukup Yoel saja tempat meminjam. Yoel yang bertanya mengapa kubeli buku ini, namun setelah kujelaskan dan ia membaca sinopsisnya toh tetap tidak tertarik. Dia barangkali bukan pembaca novel-novel perenungan seperti ini.

Kembali ke The Five Peoples You Meet In Heaven. Dulu sekali pernah ada yang merekomendasikan buku ini. Buatku dahulu, belum penting rasanya membeli buku ini karena api "Tuesday With Morrie" novel lain karangan Mitch Albom belum padam. Lagipula saat itu belum ada terjemahan Indonesia yang diterbitkan untuk buku ini. Aku bukan lagi seorang yang cukup punya waktu khusus dengan sebuah buku dengan kamus disisinya seperti dulu. Aku membaca ditempat-tempat yang 'khusus' seperti di bus, dan sebelum tidur itupun bila tugas kuliah tidak menyita waktu bacaku.
Tapi Eddie (tokoh utama dalam novel ini) yang sampai saat aku mengetik ini, baru bertemu dengan satu dari 5 orang yang harus ditemuinya di surga, mampu mencuri perhatian lebih dariku. Aku mulai memasang mata dengan setiap orang yang Tuhan kirim dalam hidupku, semua yang ada didepan mataku. Mengapa mereka ada? Apa gunanya mereka dalam hidupku? Positif atau negatif, aku tidak peduli. Aku lebih peduli pada misteri dibalik kehadiran mereka. Mitch benar, semua orang... berguna untuk hidupku. Bahkan yang tidak aku kenal, atau malah yang tidak aku sadari keberadaannya.
Tuhan terlalu bijak mengatur peran-peran setiap manusia untuk sesamanya manusia sehingga aku menyebutnya sebagai misteri. Mungkin Ia memakai sesorang yang menyebalkan untuk mengajari aku bagaimana bersikap, tapi disisi lain keteledoranku membuat seseorang diluar sana belajar banyak. Lebih berkuasa lagi ketika justru jika seseorang dipakai untuk menyelamatkan nyawa ku. Oh, betapa aku harus memasang mata hati dan pikiranku untuk SIAPA SAJA. Tidak ada lagi waktu unutk menyepelekan keberadaan seseorang dengan cara apapun. Karena sekali lagi aku bukanlah orang yang cukup berdaya untuk menentukan siapa yang akan menjadi malaikatku suatu hari.
Read More..

Rabu, 05 November 2008

Nice Ring ;)



Waktu browsing website, saya menemukan situs keren yang isinya tentang wedding ring. Situs yang interaktif dimana kita bisa memesan cincin pernikahan sesuai dengan bentuk dan selera kita.

Cincin ini terbuat dr emas putih bergrafir tulisan (nama) yang menonjol. Sangat manis saya kira. Iseng saya masukkan nama saya dan pasangan saya, dan....simsalabim, dan jadilah pesenan kita. Eiitt, masih dalam bentuk preview loh ;) Kalo mau nyata, Anda tinggal pesen dan bayar saja. Rata-rata cincin in berharga diatas 8 juta. Wow ! Tertarik?

Read More..