Tampilkan postingan dengan label jendela puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juni 2012

Catatan Orang Tua 'Kenthir'

Wahai anakku tersayang...
yang oleh alam semesta belum memperoleh ijin tinggal,
yang masih dipeluk oleh Sang Hati Raksasa,
yang masih dipangku oleh keniscayaan tanpa tanya.

Sekiranya engkau mengerti bahwa...

sungguh enggan aku memaksamu tinggal
di negeri tanpa nama besar, tanpa bentuk, tanpa identitas...

Tahukah kamu...

Mereka menyediakan begitu banyak panggung
untuk pria-pria yang dengan wujud layaknya wanita,
yang dalam selusin hari dapat merusak citra segala jenis 'Bapak' dalam hidupmu.

Mereka memberikan durasi yang lebih lama
kepada para pembohong bermulut manis,
yang akan membuatmu meragukan kebenaran itu sendiri. 

Mereka membayar banyak pada
barisan tukang cela kelas wahid,
yang pasti akan melukai hati lembutmu itu.

Tahukah kamu... apa yang menunggumu?

Sejumlah hutang negeri yang bahkan tak pernah kau nikmati, Barisan persaingan tanpa hati,
Jutaan propaganda, dan kemanusiaan yang hampir mati.....

Apakah jelas bagimu kini?
Berapa banyak pekerjaan rumah kami?
membangun rumah yang lebih dari sekedar bangunan, memenuhinya dengan budaya nan elegan,
menelan sebanyak mungkin karakter tanpa ampun, mengentalkan darah perjuangan, dan
menghembuskan intisari kemerdekaan.

Meski negeri ini pun tak akan sempurna saat kau tiba,
kami tahu bahwa kami telah mempersiapkan banyak hal. Read More..

Rabu, 22 Februari 2012

Syair Rutin Rumah Sawah















Terjaga oleh fajar tengah hari....
Terbangun oleh sejuknya air jernih tanpa kaporit..
Tergugah oleh aroma nasi siap tanak...
Termotivasi oleh wangi teh tubruk...
Terpacu oleh teriknya siang, tersadar akan kerentaan bumi..
Teredam oleh semilir rangkaian angin...

Tersentuh dan bersenandung untuk petikan 'si belahan jiwa'...
Terbuai oleh barisan notasi 'Aditia Sofyan'..
Tersentak dan bersaksi atas bertambahnya bulir dilahan petak itu...
Terkesima oleh lelahnya petang dalam aplikasi 'yellow sunset'
Terhibur oleh paduan suara jangkrik dan katak...
Terlelap oleh suara rintik hujan yang menghentak genting...

Sejumlah hari di rumah sawah...
Bagai mimpi yang telah terbiasa menjadi nyata...
Kadang terlewat begitu saja..
Kadang tak ingin cepat berlalu...

Read More..

Senin, 31 Oktober 2011

Selamat Datang Hujan

Ketika saya membuka-buka catatan harian kembali, saya temukan catatan ini saya buat untuk menandai datangnya musim hujan tahun lalu. Kini musim hujan telah datang kembali dan rasanya adalah waktu yang tepat untuk merilis tulisan ini;

---

Waktu bergerak, kisah-kisah bergulir,
usia bertambah, manusia datang dan pergi,
karakter bertambah dan semakin berwarna..
tapi HUJAN tetaplah mempesona.

Sejuknya adalah karakter yang tak berubah menjadi hangat,
meski bumi semakin tercemar.
Curahnya tak kurang dan tak lebih,
tak pula bergantung pada populasi manusia dibawahnya.
Ia tetap beraksi dengan atau tanpa manusia menikmatinya.

Jernihnya tak menjadi tua dan kusam,
tahun ini maupun ratusan tahun yang lalu.

Tak ayal, ia mewarnai kisah-kisah indah manusia
dengan sikap anggun nan misterius.

Mereka memandangnya sebagai berkah atau musibah,
bukan karena kehadirannya.
Melainkan karena kisah-kisah mereka sendiri.

Lantas... Ia seringkali bekerjasama dengan waktu..
untuk menandai kisah-kisah manusia.
Apapun akibat kehadirannya...

Hujan tak pernah gagal untuk tampil mempesona.

---
original text was made on
12 october 2010 Read More..

Selasa, 08 September 2009

aku menyebut mereka


aku menyebut mereka
'malaikat-malaikat dari Tuhan',
meskipun bentuk mereka tajam seperti pisau...

sebutan itu
bukan karena apa yang mereka rasakan terhadapku,
bukan juga karena apa yang mereka lakukan,
dan apa yang mereka katakan...

tapi karena fungsi mereka yang sedemikian tajam,
sehingga Tuhan memakai mereka untuk memahatku
menjadi lebih indah....

Jakarta, 08 September 2009


Read More..

Senin, 24 November 2008

Secangkir Teh Madu



Adakah yang tau?
bahwa satu-satunya hal yang kuinginkan sekarang
adalah berada disuatu tempat yang jauh...
dengan secangkir teh madu di pagi hari...
bersamamu... membahas kehidupan setelah ini...


Tidakkah engkau lelah dengan raut lelah ini?
bagaimana bila kita ikuti arah poros bumi...
mencari dam menemukan kembali rona merah muda di pipi ini
..

Secangkir teh madu...
karena aku begitu heran mengapa begitu banyak orang
menyesap kopi pahit dalam hidup yang hampir amis...


Read More..