Tampilkan postingan dengan label sosok diluar jendela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosok diluar jendela. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

They Were Never Gave Me A Farewell


cerita foto : Sukabumi, 11 September 2011
Kiri ke kanan : Reza, Ael, Danan, Ira, saya, Christine, Arman, Adi, Dimas



Sudah lebih dari sebulan berlalu, tapi saya tak pernah kehilangan semangat untuk mengabadikan ini dalam sebuah tulisan.

Saya tak akan menemukan cerita ini jika saja saya tidak pernah memutuskan untuk hijrah ke Jogja mengikuti suami yang sudah terlebih dahulu pindah. Kenyataannya saya telah memutuskan hal tersebut, berbulan-bulan sebelumnya. Dan waktu yang tak dapat dihindari pun datang, waktu untuk mengeksekusi keputusan tersebut.

Dua puluh dua Agustus 2011 saya menyampaikan pengunduran diri saya kepada atasan saya, dan Dua puluh enam September berikutnya dapat dikatakan hari terakhir saya berada di kantor terakhir yang telah menjadikan saya seorang pekerja. Dari sanalah kemudian saya akan merintis karir selanjutnya yang bukan sebagai seorang pekerja. Apapun yang akan saya lakukan setelah 'resign', 'hari terakhir' ini tetaplah harus saya hadapi. Dapat dikatakan bahwa ini bukanlah perkara mudah bagi saya, mengingat orang-orang yang akan saya tinggalkan. Saya mengkategorikan mereka sebagai 'teman-teman' dan untuk sementara anda mungkin tidak dapat mengukur kedalaman hubungan itu bagi saya, sampai anda selesai membaca tulisan ini.

Read More..

Senin, 17 Agustus 2009

Hadiah di Hari Kemerdekaan

Dapat dikatakan kisah hari ini adalah hadiah dari Tuhan khusus untukku di hari kemerdekaan negara ku tercinta... Indonesia...
Sebuah minggu siang nan terik yang membawaku pada sepenggal kisah masa lalu bangsaku... Oleh pertemuanku dengan sosok biasa yang mungkin tak dipandang sejarah, namun bagi ku memberi pelajaran berharga tentang arti dari sejarah...



Aku menjejakkan kaki di sebuah rumah mungil di sebuah kawasan yang ku tau adalah pemukiman keluarga angkatan bersenjata negeri ini.... Bukan yang pertama kali aku datang ke daerah ini, namun siapa sangka bawha rumah ini akan menjadi tempat aku belajar dalam hidupku...
Aku telah melihat sosok wanita tua itu saat pintu rumahnya terbuka, tak lama juga bagiku untuk menyadari bahwa ruang tamu itu telah juga menjadi kamar tidur untuk waktu yang lama. Ia menyambut kami dengan senyum sukacita ditengah kerut yang telah menguasai wajahnya... Ibu, begitu aku menyapanya...




Kami lalu larut dalam perbincangan yang tanpa ia sadari telah membuat mata, hati, dan telingaku tertarik untuk mengabadikan perbincangan ini.

Ayahnya dan suaminya adalah bagian dari sejarah negeri ini dan yang membuat wanita ini istimewa bagiku adalah, ia telah menjadi saksi para pejuang itu dan mampu merekam semangat pada jaman itu dalam jiwa wanitanya.



'Bapak saya itu pejuang RI, saya ingat betul... kakek saya yang adalah tentara KNIL sering menurunkan bendera merah putih dari tiang bendera di halaman rumah, namun selalu di naikkan kembali oleh Bapak saya.. Di rumah memang mereka bapak dan anak, tapi diluar mereka adalah musuh.' katanya sambil tersenyum geli mengenang masa itu. "Saya ingat betul suatu waktu di tahun 1945, Bapak saya yang sudah tua memanggil saya sebagai anak paling tua dan mengatakan 'Bapak tidak akan meninggal sebelum Indonesia merdeka, karena itu baik untuk anak mu dan cucu mu'. Dan benar akhirnya Bapak saya menginggal bulan September 1945." cerita itu berhenti dengan kaca di sepasang mata tuanya. Sementara itu dibelahan Indonesia lainnya, seorang pemuda telah bergabung dengan wajib militer untuk merebut kemerdekaan Indonesia, melakukan gerilya dan selamat dari sekian banyak perang menerjang maut.

Ibu lalu jatuh cinta pada pria ini, " Tapi jaman dulu pacarannya ndak seperti jaman sekarang. Jaman dulu kerjaannya nunggu surat dua bulan, deg-degan nunggu kekasih pulang atau sudah meninggal di medan perang." Kami semua tertawa mendengar kisah ini, kami menyadari dimensi waktu yang sama sekali berbeda antar Ibu dan kami. Kami tahu hal demikian dari film-film perang, namun hari ini kami berbicara langsung dengan pelakunya.
Tahun 1957 Ibu menikah dengan pejuang itu, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.





Perbincangan ini kemudian semakin mendalam ketika aku bertanya tentang pengalamannya menjadi istri tentara. "Huah... kenyang ditinggal.." komentar singkatnya ini membuat kami terbahak.


"Yaah... klo ditinggal tugas itu minimal tiga bulan, ndak peduli lai hamil atau baru melahirkan... wess pokoknya ditinggal" katanya sambil memperlihatkan barisan gigi sehatnya yang tak lagi lengkap.



" Suami saya itu angkatan tapi jujur... makanya yaa... cuma ada rumah dinas ini... klo rumah dinas ini diambil yo sudah... ndak ada tempat tinggal lagi."
kami semua terdiam untuk pernyataan ini.

Aku lalu mengalihkan pembicaraan pada sebuah foto yang tergantung didinding, "Itu suami saya, dan itu medali gerilya nya." Katanya sambil menunjuk pada medali yang dimaksudkan. "Wah berarti Ibu selalu ikut upacara detik-detik proklamasi ya di istana?" sambarku.
"Oh iya... tapi suami saya klo ikut upacara disana selalu nangis, dia inget waktu berjuang dulu." katanya sambil berkaca-kaca kembali. "Dulu mah orang jadi tentara untuk bela negara, tapi sekarang kebanyakan orang jadi tentara untuk bela kepentingannya sendiri." katanya sinis.

Ketika pembicaraan kami mengalir pada masa akhir hayat suaminya, wajah tua itu pun semakin sedih. "Suami saya meninggalnya baru tahun 2004, beliau pensiun dengan pangkat yang lumayan tinggi. Tapi karena beliau jujur jadi tidak banyak hartanya. Di sisa umurnya, dia sering mengusap-usap kepala saya dan berkata 'kasihan Ibu, jadi istri Bapak... jadi ndak pernah bisa jadi orang kaya'. Saya bilang, saya ndak pernah minta kaya kok Pak, saya sudah cukup bangga bisa jadi anak pejuang terus jadi istri tentara negara."

"Bapak dan suami saya sudah selesai dengan tugasnya, tapi kenapa yah anak dan cucu saya tetap saja sulit untuk sekedar dapat pekerjaan. Ternyata merdeka saja tidak cukup ya."

Kami semua tak mampu berkata-kata untuk ini...




Aku mengakhiri pertemuan sore itu dengan menyusuri tatapanku pada setiap sudut rumah dinas tua itu. Kesederhanaan yang menyimpan jutaan sejarah dan sejuta harapan. Rasanya lebih nyata dari sekedar menonton film perjuangan dan menyanyikan lagu kebangsaan. Inilah keadaan kemerdekaan itu ditangan para aktor dan para penontonnya. Sejuta pesan yang tak dibangun oleh satu atau dua hari setelah proklamasi. Melainkan dibangun oleh pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, diajarkan oleh banyak guru dan diterima oleh begitu banyak murid dari masa ke masa.

Saat kami pamit, Ibu Odelia (begitu namanya) membungkuskan bagi kami begitu banyak banyak pelajaran dan harapan. Kecantikan lawasnya sarat makna, membuat ia begitu berharga di masa ini...

Entah berapa banyak saksi sejarah yang dibutuhkan, untuk membuat sebuah kemerdekaan berharga bagi generasi ke generasi...


Read More..

Senin, 22 Juni 2009

my family - my adventure

Ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih dalam hidup...
dan KELUARGA adalah salah satunya...
Ketidakberdayaan untuk menentukan orang2 pertama dalam hidup kita inilah yang melatih kita menerima orang-orang berikutnya...
Aku menulis setiap karakter orang-orang istimewa ini dalam setiap gambarnya...

Meng'klik setiap foto yang ingin anda ketahui... akan menuntun anda menemukan sejarah dan mengenal pribadi dalam setiap gambar!





---------------------------------------------------------------------------------
Dua orang lelaki dari Tiga orang lelaki yang akan tinggal tetap dalam hidupku...
Joice Herman Sigar (satu2nya papa biologis ku)
Capri Bill Sigar (the one and only brother)
Yang satu lagi belum ku temukan... tapi akan segera ku paksa berfoto dengan yang dua ini begitu aku menemukannya.
Karena dialah yang akan menghapus Sigar dari Chonie Prysillia Sigar... =)
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Hampir saja aku jadi anak tunggal kalu saja beliau tidak lahir saat aku berumur sembilan tahun.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Entah berapa umurnya saat foto ini dibuat. Tergantung di ruang tamu kediaman keluarga Sigar, desa Kauditan. Setelah sebesar ini, baru kali ini aku melihat sisi lain dari Pria ini. Kupikir, dengan kerut-kerut kelelahan dan lekuk rahang super tegas yang menghias wajah tuanya, ia tak pernah muda.
Aku salah, semua yang ia alami dalam hidupnya memakan masa muda itu. Baik atau buruknya, aku bersyukur mampu mengasihinya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Karena lebih dari apapun yang ada dalam doaku, ia menempati posisi pertama.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Bayangan hidup buatku...
Aku hampir tidak pernah ingin memiliki hidup seperti hidupnya...
Tapi tanpa aku sadari... Hidupnya yang membentuk hidupku...
Dan semua sikapnya, reaksinya... Jalan pemikirannya.. ada dalam sikap-sikapku, reaksi-reaksiku dan sebagian besar jalan pemikiranku.
Kini, saat ia semakin sering berbagi pendapat denganku, ia mengira aku telah dewasa...
Ia tidak menyadari.. bahwa sebagian besar, aku menyonteknya...
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Empat orang yang jadi pertimbangan dalam setiap langkah hidup.
Foto ini adalah satu-satunya foto keluarga yang aku, atau bahkan yang keluarga ini miliki.
Apapun fakta yang terbersit dari kenyataan ini, aku percaya bahwa setiap keluarga punya kisah masing-masing. Dan kisah keluargaku adalah istimewa. Paling tidak untuk hidupku yang istimewa ini.
Ini semua dalam arti yang sebenarnya, bukan makna kiasan atau lambang ke-skeptis-an ku. Karena sungguh, akhir-akhir ini aku tak ingin kisah keluarga ini digantikan oleh kisah apapun dalam hidupku.
Siapa Chonie? Seperti apa dia?
Seperti pribadi yang dibentuk, baik sengaja maupun tidak sengaja, oleh keluarga Sigar - Tengker.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Pernikahan ini mungkin bukan yang terbaik di dunia ini...
Tapi pernikahan ini... dengan sejarah yang ia hadirkan akan melahirkan sebuah pernikahan indah yang penuh pelajaran 'dari-generasi-ke-generasi'...
yaitu pernikahanku...
---------------------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------------------
Opa & Oma... Papi & Maminya Pak Joice Herman Sigar. Setelah bertahun - tahun tidak bertemu, 2 jam ini sangatlah berarti.
---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------
Yang tersisa dari dua orang orang tua mama. Yang satu lagi sudah bersama Bapa disurga 11 Mei 2007 yang lalu. Dan foto ini adalah kunjungan Opa yang pertama ke Jakarta setelah Oma pergi. Pernah melihat pria yang begitu tergantung dengan istrinya? Pria inilah salah satunya. Air matanya tak pernah habis, meski ia berada ribuan kilometer dari makam istrinya.
Suatu hari, saat aku meninggalkan suamiku kerumah Bapa, akankah aku meninggalkan suami seperti ini?
Read More..

My Inspiration


Dear all,

Kali ini...
Aku belajar bagaimana hidup akan menuntunmu untuk bertemu dengan seseorang yang...
disebut sahabat sejati karena selalu ada...
disebut malaikat karena selalu melindungi...
disebut supermarket karena terdapat banyak sekali hal menarik didalamnya...
disebut saudara karena terikat, tak akan pernah pergi...
disebut pintu ajaib karena mampu membawaku ketempat-tempat yang belum pernah kau tuju...

disebut roller coaster karena mampu membuatmu tertawa, takut, menangis, berteriak, lega...
disebut museum karena mengizinkanmu masuk sampai ruang-ruang terkecil yang tak dituju orang lain...
disebut pelawak karena selalu mampu menarik senyummu...
disebut gudang karena banyak hal didalamnya menjadi bahan2 bagimu terinspirasi...
disebut istimewa... karena memang istimewa....
disebut kekasih... karena layak dikasihi...
Read More..

My Idol



"Hallo.." terdengar suara anak laki-laki diseberang sana, aku menarik ujung-ujung bibirku, tersenyum karena itu suara yang memang kuharapkan. " Halloooo... Adek! Selamat Ulang Tahun yaa... " ucapku girang. "Heee... trima kasih yaa..kak!" kata suara itu. "Jadi, ade minta hadiah apa sama Papa-Mama?" tanyaku kemudian. "Hmm... aku minta uang dua puluh satu ribu aja.." katanya. Aku merasakan desiran aneh dihatiku mendengar itu. " Dua puluh satu ribu? Buat apa uang segitu?" kataku penasaran.

"Beli kaset PS..ehh... dua puluh satu ribu itu sudah sama ongkos ke tokonya,loh" kata suara itu bersemangat. Selama sekian detik aku terdiam. Adikku, umurnya kini 13 tahun hari ini, tapi dalam banyak hal aku belajar padanya. "Kakak lagi ngga bisa kirim kado nih dek..." ucapku kemudian. "Oh ngga apa-apa kak... kalo ngga ada ngga usah dipaksa. Besok-besok aja, yang penting doain aku." aku nyaris tak percaya itu adikku.

Seingatku saat aku berumur 13 tahun, aku meminta sebuah pesta 'kecil' dengan teman-temanku. Aku dan adikku melewati proses hidup yang sama sekali berbeda. Yang ingin ku katakan adalah, aku tidak akan pernah malu belajar dari siapapun, termasuk dari adikku...

Kini aku mengerti mengapa gajah harus belajar banyak bergaul seperti semut. Aku dan adikku, ternyata saling mengidolakan. Sesuatu yang mungkin tidak perlu adikku ketahui sampai dia cukup dewasa, dan membaca tulisan ini.

Adikku itu ISTIMEWA... aku tidak dapat bayangkan bagaimana kehidupan seperti itu dapat dilalui jika pelakunya bukan adikku. Aku pernah tahu bagaimana rasanya nyaman, menjadi proiritas, bebas dari kewajiban mengatur sikap, bebas dari kewajiban menahan perasaan...atau minimal menikmati masa anak-anak. Hal-hal yang tidak diketahui, atau minimal yang hanya bisa diraba-raba oleh adikku. Aku yang (pada usia belasan sampai lebih dari duapuluh tahun) sengaja dihindarkan dari banyak hal yang tampaknya dapat menghancurkan hidupku, tapi justru dilewati dengan penuh kekuatan oleh adikku.

Aku kenal banyak orang-orang hebat sampai dengan hari ini. Aku juga banyak mendengar orang mengatakan bahwa hidupku indah.

Tapi hari ini, aku ngin seluruh dunia tahu...bahwa adikku Capri Bill Sigar, telah melalui lebih banyak dari yang kulalui... Dia jelas punya kekuatan lebih dari milikku, dia dipilih Tuhan untuk melalui apa yang tidak sanggup aku lalui.

Aku tahu bahwa, dari kecil dia selalu mengidolakanku.. Seperti apa yang selalu terucap dari bibirnya. Sesuatu yang mungkin saja berubah bila suatu hari ia tahu bahwa tidak banyak yang sudah kulakukan untuknya.

Tapi satu hal yang belum dan akan ia ketahui... bahwa aku mengidolakannya, sesuatu yang tidak akan berubah!

Aku tahu... hidupnya akan jauh lebih indah dari hidupku!

Selamat Ulang Tahun Dek...!! Tuhan Yesus memberkati & memilihmu... sepaket dengan kekuatan yang dilektakkanNya padamu...
Read More..