Tampilkan postingan dengan label jendela peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela peristiwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Jagongan 'ala' Desa Parangtritis


Menghadiri puluhan acara resepsi pernikahan yang dilaksanakan digedung atau tenda dengan selusin AC portable di setiap sudut, mungkin telah menjadi agenda mingguan kita. Saat itu jika ditanya hendak kemana, orang jawa biasa menjawab akan pergi ke 'jagongan' (perayaan). Dalam resepsi pernikahan seperti itu acara biasanya diawali dengan iring-iringan pengantin dan keluarganya. Berbagai ritual adat dilakukan pada momen ini. Setelah rombongan pengantin tiba di pelaminan maka diadakanlah pertunjukan tari-tarian atau pertunjukan formal lainnya dan diakhiri dengan doa. Setelah itu, dapat ditebak, acara makan dimulai. Makanan biasanya disajikan secara prasmanan dan undangan mulai 'sibuk dengan urusan perutnya sendiri'. Sesekali bercengkrama dengan undangan lain yang kebetulan dikenali, berbagi berkomentar ini-itu mengenai kualitas kateringnya dan diakhiri dengan mengantri bersalaman dengan para penghuni pelaminan, sesekali berfoto, dan pulang. Demikian kiranya, sebuah pesta pernikahan terasa sangat membosankan, setidaknya bagi orang-orang seperti saya.

Namun jika kita mengira tipe pesta seperti itulah yang merupakan standar masyarakat Indonesia, maka kita harus berpikir lagi. Akhir minggu lalu saya berkesempatan menghadiri pesta pernikahan ala mereka yang berada dipesisir pantai Parang Tritis. Disanalah saya merasa benar-benar berada di pesta pernikahan rakyat, saya lantas menyadari bahwa berbagai lapisan masyarakat telah menciptakan tata cara nya sendiri, yang sesuai dengan keadaan mereka, termasuk dalam hal pesta. Beginilah kisahnya...
Read More..

Seni Instalasi FKY 2012

Pemberani
Noor Ibrahim (2011)
400x350x250cm
Logam Besi dan Cat Minyak

Menjelang akhir minggu yang lalu, dalam rangka gelar FKY 2012, belasan karya seni istalasi telah menghiasi jalan Malioboro hingga titik Nol Kilometer DI Yogyakarta. FYK merupakan salah satu hajatan paling ditunggu di Yogyakarta, terkait keistimewaannya dalam kesenian dan kebudayaan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, salah satu kegiatan FKY adalah memajang sejumlah karya seniman di ruang publik.

Berbekal sebuah kamera, saya berniat untuk mendokumentasikan rangkaian karya seni ruang publik FKY tahun ini. Sayangnya, pada hari yang sama, kawasan Malioboro hingga titik Nol kilometer dipenuhi oleh banyak sekali turis domestik, sehingga tidak seluruh karya seni tersebut berhasil saya dokumentasikan. Sebuah cerita unik berhasil saya simpan dari perjalanan yang tak lebih dari satu kilometer ini. Namun sebelumnya, mari mengambil waktu sejenak untuk menikmati hasil pendokumentasian saya sore itu;
Read More..