Menjadi sebuah industri film yang hidup di Indonesia tidaklah mudah.
Beban yang ditanggung tidaklah sedikit, namun tugas yang dijalankan
tak kurang mulia. Setiap fungsinya berhubungan erat dengan bangsa
dimana ia bernaung. Sebagaimana pribadi seorang manusia melambangkan
asal-usulnya, demikian industri film melambangkan bangsanya.
Tampilkan postingan dengan label jendela opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela opini. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Maret 2013
Rabu, 19 September 2012
SECRET ADMIRE (Penggemar Rahasia)
Terdapat dua jenis penggemar rahasia. Keduanya selalu merespon dengan cepat untuk semua hal tentang kita.
Jenis pertama adalah kelompok PRO yaitu mereka yang merespon baik, senang, setuju dan kagum dalam segala hal. Jenis kedua adalah kelompok KONTRA yakni mereka yang merespon buruk, jijik dan tidak setuju, namun diam-diam menerapkan semua pemikiran, perkataan dan perbuatan kita dalam hidupnya.
Jadi jangan menepis mereka KONTRA atas hidupmu? Karena mungkin saja mereka adalah SECRET ADMIRE jenis kedua.
Read More..
Rabu, 15 Agustus 2012
Bonus Perilaku Berjejaring Sosial
| foto diambil dari website masing-masing |
Social networking atau jejaring sosial telah menjadi bagian hidup, bahkan (rasanya) bagian tubuh bagi manusia abad ini. Dinegara saya Indonesia pun demikian. Lintas usia dan lintas budaya. Saya telah berkali-kali terkejut karena beberapa anak dibawah tujuh belas tahun telah meng'add friend' saya. Hal ini lalu menjadi dilema untuk ditolak karena sesungguhnya mereka masih merupakan keluarga saya. Saya juga pernah menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan beberapa orang yang sudah sangat tua mendeklarasikan akun jejaring sosialnya.
Wabah ini demikian meluas dan orang-orang mulai meresponnya dengan cara berlebih. Sedangkan seperti yang kita tahu, segala sesuatu yang berlebih seringkali tak berakhir baik.
Saya telah memperhatikan sedemikian dan mendapati beberapa perilaku berkembang tanpa dapat kita cegah. Ironisnya banyak pihak tidak menilainya sebagai keistimewaan (meski saya lebih suka menyebutnya berlebihan). Maka saya berpikir untuk mencatatnya sebagai penanda peradaban atau untuk apapun itu.
Beberapa perilaku berjejaring sosial ini telah mampu membuat saya tertawa, menggelengkan kepala, mengelus dada dan tak pernah berhenti kagum. Saya bahkan pernah melakukan beberapa diantaranya, lalu kemudian malu dibelakang hari. Jadi saya sama sekali tidak mengecam siapapun yang melakukannya. Hanya saja, mungkin harus ada seseorang menulis, agar teman, keluarga dan kenalan saya dapat mulai menyaring hal-hal berjejaring sosial yang mungkin akan mereka tertawakan dimasa depan.
Selasa, 03 Mei 2011
Mr Someone atau Bapak Seseorang
Pagi ini adalah pagi yang biasa di kantor saya jika saja tidak terselip sebuah cerita pendek yang saya suka menceritakannya sebesar kesukaan saya pada nilai yang dikandungnya.
Berawal ketika saya menghampiri atasan saya (yang adalah seorang expatriat) untuk menyerahkan dokumen. Saat itu atasan saya sedang menuju ruang meeting. Setelah saya menyerahkan dokumen yang dimaksud, beliau mengucapkan terima kasih lalu mampir keruangan dibelakang kami untuk menyapa seorang expatriate lainnya yang juga adalah atasan kami dan menyapa beliau seperti ini;
Read More..
Berawal ketika saya menghampiri atasan saya (yang adalah seorang expatriat) untuk menyerahkan dokumen. Saat itu atasan saya sedang menuju ruang meeting. Setelah saya menyerahkan dokumen yang dimaksud, beliau mengucapkan terima kasih lalu mampir keruangan dibelakang kami untuk menyapa seorang expatriate lainnya yang juga adalah atasan kami dan menyapa beliau seperti ini;
Jumat, 22 April 2011
Seri Negara Dagelan 1 : Ladang Uang Baru
*ilustrasi: http://unlimitedtourism.files.wordpress.com/2009/02/diskusi_wayang1.jpg
Hari ini tentu akan 'terlalu' indah jika saja tidak ada kejadian buruk di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Tapi saya tidak juga menyesalinya karena dengan demikian saya tidak akan terpikir untuk membuat Seri Negara Dagelan ini. Adapun kata dagelan hanyalah sebuah kiasan untuk menyampaikan berbagai kekecewaan dari apa yg terjadi pada bangsa ini. Dalam banyak hal mungkin saya tidak pernah tahu apakah ini dapat membuat perubahan, tapi saya pun tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dengan nasionalisme saya jika hal-hal ini tidak pernah saya tuangkan dari otak saya (minimal dalam bentuk tulisan). Dan kisah ini adalah kisah pertama dari seri 'Negara Dagelan'.
Kejadiannya bermula dari ide saya dan beberapa teman dekat untuk berwisata sederhana ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Hari ini adalah hari libur nasional dan kami terdiri dari beberapa keluarga juga beberapa lajang berkumpul di tempat yang dijanjikan. Setelah beberapa jam melakukan aktifitas di satu tempat, kami memutuskan untuk mengelilingi TMII. Tempat pertama yang menarik perhatian kami adalah Museum Transportasi. Museum Transportasi menyimpan beberapa alat transportasi kuno yag pernah digunakan di negara ini.
Read More..
Sabtu, 06 November 2010
INDONESIA = Cantik Itu Menyakitkan

Wanita cantik itu telah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi hari baru itu.... Ia keluar dari kamar pagar rumahnya, menghirup sebanyak mungkin udara sebagaimana ia menghirup sebanyak mungkin semangat untuk hari itu. Di ujung jalan ia berbelok dan melewati sebuah rumah dalam tahap renovasi yang dipenuhi pria-pria pekerja bangunan. Tanpa ia mengerti kesalahan apa yang telah ia lakukan, seorang dari pria-pria tersebut memanggilnya dengan siulan rendah. Yang lainnya menambahkan dengan sapaan 'Pagi sayang...' walaupun jelas-jelas mereka tidak saling kenal. Bahkan setelah si wanita berlalu pun ia masih mendengar gumaman tak senohon dan lebih dari itu... apa yang ada dalam pikiran pria-pria pastilah sesuatu yang tak dapat dibatasi oleh si wanita sehingga ia hanya mampu menggidik tanpa mampu membayangkannya. Segala kesantunan telah ia penuhi, namun ia tetap harus menerima itu sebagai sebuah resiko.
'Cantik itu menyakitkan'... kalimat itu mungkin dekat dengan banyak orang. Karena cantik itu sendiri itu ada dimana-mana. Aku menyaksikan bagaimana cantik itu menghiasi beberapa pribadi di sekitarku. Ya, keindahan yang dalam segi praktisnya dilambangkan dalam kata cantik ada dimana-mana. Namun disaat yang sama, kecantikan diikuti resiko yang kerap harus ditanggung oleh sesuatu yang justru diperoleh dari anugrah, tanpa diminta, tanpa didoakan. Pada akhirnya kecantikan justru lebih menjadi dilema bagi pemiliknya untuk mensyukuri atau mencemaskannya.

Read More..
'Cantik itu menyakitkan'... kalimat itu mungkin dekat dengan banyak orang. Karena cantik itu sendiri itu ada dimana-mana. Aku menyaksikan bagaimana cantik itu menghiasi beberapa pribadi di sekitarku. Ya, keindahan yang dalam segi praktisnya dilambangkan dalam kata cantik ada dimana-mana. Namun disaat yang sama, kecantikan diikuti resiko yang kerap harus ditanggung oleh sesuatu yang justru diperoleh dari anugrah, tanpa diminta, tanpa didoakan. Pada akhirnya kecantikan justru lebih menjadi dilema bagi pemiliknya untuk mensyukuri atau mencemaskannya.
Tak ada yang menyangkal kecantikan negeri kami... Tak ada yang menyangkal... Aku jamin itu! Itulah sebabnya kami tak ragu untuk mengundang sebanyak mungkin teman mancanegara kami untuk datang dan menikmati negeri kami. Rasa memiliki akan keindahan itu seperti menempel sejak kami meneguk tetesan air pertama negeri ini. Syair-syair lagu kami tak ragu menyebut negeri kami elok... indah.. cantik...

Bahkan waktu pun tak dapat mengubah negeri kami menjadi buruk rupa. Ia hanya kian cantik dari generasi ke generasi. Dan maaf, kecantikannya tak luntur oleh kebobrokan manusiawi penghuninya, kemerosotan ekonomi dan bahkan mundurnya prestasi generasi mudanya. Ia tetap cantik... de veto... maupun... de jure.
Jika seorang manusia cantik diukur dari paras, tubuh dan berbagai aspek lainnya. Maka mari kita buat check list untuk wajah negeri ini... Pantai, laut, gunung, semenanjung, alam bawah laut, curug, air terjun, gua, danau hutan dan sebagainya... Niscaya seluruh check list pun terisi penuh. Satu paket komplit, bisa didapatkan di Indonesia. (Aku menahan napas ketika mengetikan fakta ini... dalam pikiranku terputar slide-slide urutan lansekap itu)
Maka ketika segenap bencana melanda negeri kami... aku kembali mengingat kalimat itu.... 'Cantik itu menyakitkan'. Kenyataannya negeri kami memiliki 8 dari sekian gunung berapi paling aktif didunia yang seluruh aktifitas tektonik maupun vulkaniknya berhubungan dengan Lempeng Eurasia yang terkenal itu. Setiap letusan gunung berapi telah menjadikan tanah kami kian subur.. Tak terkira berapa jenis flora yang dapat tumbuh mengihiasi tanah kami. Setiap gempa telah memahat lansekap kami sedemikian rupa. Bahkan lensa kamera secanggih apapun terpuaskan oleh keindahannya. Seluruh dunia telah mengabadikannya dengan teknologi tercanggih yang mereka punya. Mereka bahkan menguras kantong mereka untuk datang dan melihat.
Senin, 04 Oktober 2010
Nilai Sebuah Kerumunan

Gambar disadur dari ananewbie.wordpress.com
Selalu ada yang menarik dari sebuah kerumunan...
Betapa tidak?
Berada di kerumunan sama seperti berada di tumpukan buku kehidupan... yang berarti berada pada jutaan inspirasi dan cerita...
Setiap orang punya cerita... setiap cerita menghasilkan karakter... dan setiap karakter ,menghasilkan respon, penampilan, serta... aura. Jadi... betapa kaya sebuah kerumunan! Ia penuh warna, penuh kreasi, penuh nilai, penuh harapan...
Kerumunan selalu menarik untuk dilihat dengan sebuah kaca pembesar. Cerita yang tersembunyi dari sebuah pribadi hanya dapat dilihat dari sebuah 'kaca pembesar' dari sebuah kerumunan... Jika tidak, maka kerumunan hanyalah sebuah gangguan visual bagi sebagian orang... atau hanyalah sebuah wadah unjuk gigi bagi sisanya..
Jumat, 06 November 2009
MASA DEPANlebihkayadariMASA LALU

Hari ini adalah hari penuh semangat diruangan kantorku, 1 November yang lalu Dept Head kami berulang tahung dan beliau mengundang kami semua untuk makan siang di sebuah resto dekat kantor. Undangan ini kami terima beberapa hari yang lalu, maka kamipun diberikan dress code oleh pemilik acara untuk menyemarakkan acara ini. Alhasil semua wanita dalan divisi ini mengenakan baju pink dan semua pria mengenakan baju biru. Aku lantas tak bisa membedakan acara hari ini adalah Birthday Celebration atau Valentine day.
Kami kembali ke kantor sekitar pukul 14.30 WIB. Sesuatu yang tak mungkin terjadi jika saja yang berulang tahun bukan seorang Dept. Head. Masih dalam euphoria hip hip hura... aku pun memindahkan seluruh foto ulang tahun dari setiap anggota divisi yang pernah ku dokumentasikan dan bersemedi cukup lama di dalam memori HP ku. Aku memang sudah lama merencanakan ini, mengingat memori HP ku nyaris penuh oleh foto-foto ulang tahun seisi ruangan ini. Sambil menunggu semua foto-foto itu aku mulai membayangkan reaksi audiens atas foto-foto ini....
Dalam bayanganku, mereka pastilah tak begitu tertarik dengan foto-foto lama. Hari ini adalah hari sukacita, dimana kami baru saja mengabadikan moment-moment terkini dalam pesta kecil ulang tahun atasan kami. Tentulah yang mereka harapkan adalah foto-foto hari ini, bukan foto-foto yang sudah tidak 'up to date' alias hampir 'basi'. Oleh sebab itu dengan sedikit malas aku tetap mempublikasikan foto-foto itu, karena aku sudah malas melihatnya berlama-lama dalam HP ku. Aku sama sekali tak pernah membayangkan... pelajaran yang dapat kuraup dari keputusan sederhana ini...
Lima belas menit berlalu sejak aku mengirimkan email itu dan aku sedang tidak mengharapkan reaksi apa-apa ketika Bu Mei Nie keluar dari ruangannya dan berteriak dengan semangat...
"Hey ada yang tau nggak... kenapa tampang saya begitu waktu Dodo coba jaket kado ultah kita?" serunya. Kalimat itu kemudian disambut dengan berbagai jawaban yang kemudian membuat ruangan ini penuh dengan nostalgia.
"Karena waktu itu Ibu ngotot jaket itu akan kekecilan buat Dodo." kata salah satu temanku.
"Iya yah, waktu itu sih belum kekecilan. Sekarang pasti sudah kekecilan, buktinya Dodo ngga pernah pake lagi." jawab yang lainnya. Yang dibicarakan (Dodo) lantas tersenyum mengiyakan.
"Hehe... emanggg... udah ngga bisa terkunci kancingnya." katanya sambil tersipu...
"Dulu ngga segendut ini ya gue...." katanya kemudian.
"Yaa ampun... gue culun banget ya dulu...!!!" teriak yang seorang lainnya...
Selama kurang lebih 15 menit berlalu dengan penuh kata-kata 'dulu', 'waktu itu', 'coba waktu itu', 'pernah', dan 'untung waktu itu'. Tak ada yang menyadari... aku melihat pelajaran besar dari ini.
Tidak ada orang yang tak tertarik dengan masa lalu. Baik, buruk, menyenangkan, menyedihkan, banyak, dan sedikitnya tetap membuat orang tertarik... dengan atau tanpa ia mengakuinya... Sebagian menganggapnya harus terulang... namun lebih banyak yang berharap tak perlu terulang. Namun apapun itu, masa lalu adalah proses yang tanpanya kita tidak akan menjadi seperti adanya kita sekarang. Tak ada seorangpun dapat menyangkal itu. Masa lalu membuat kita dapat mengukur banyak hal yang ada di depan kita.
Sayang sekali masa lalu adalah 'benda mati', yang keberadaannya tidak bisa menentukan sendiri akan ke kanan atau ke kiri, akan maju atau mundur akan berlari atau berjalan... Ia tidak juga bisa membekukan kita, apalagi membuat kita bergerak lebih cepat..
Jadi adalah bodoh jika kita pikir masa lalu yang buruk dapat membuat kita berhenti menjadi lebih baik dan jika kita pikir masa lalu yang gemilang akan mendongrak kita menjadi lebih baik.
Kita lah yang menggerakkan mesin hidup, bukan masa lalu. Masa lalu tidak dapat membantu sedikitpun. Ia hanyalah pajangan dalam pikiran kita dan dalam segala cara dokumentasi manusia. Sayangnya, kita selalu tertarik dengan masa lalu karena kita pikir ia adalah benda hidup yang dapat menentukan hidup kita.
Masa lalu sebagai wanita cantik, kita pikir akan membuat kita tetap terlihat cantik di masa sekarang. Masa lalu sebagai orang kaya, membuat kita berpikir masih banyak orang yang mengyayangi kita. Masa lalu berada dalam keluarga pas-pas an membuat kita tidak pernah bermimpi untuk menjadi kaya.
Betapa menariknya untuk melihat kebelakang, karena banyak sekali kejadian yang telah kita alami. Kita sering membayangkan betapa KAYAnya masa lalu dengan begitu banyak peristiwa yang ia simpan. Pernahkan kita membayangkan betapa KAYA nya masa depan itu? Dengan peristiwa-peristiwa yang tak dapat kita hitung... mimpi-mimpi yang tak pernah bisa kita batasi, orang-orang yang tak dapat kita hitung akan datang dalam hidup kita. Betapa masa depan itu lebih kaya dari masa lalu. Kita memang hasil dari masa lalu tapi kita tidak selalu sama dengan masa lalu. Mari jadikan masa lalu sebuah pigura indah yang isinya tak lebih baik dari adanya kita sekarang.
Read More..
"Hey ada yang tau nggak... kenapa tampang saya begitu waktu Dodo coba jaket kado ultah kita?" serunya. Kalimat itu kemudian disambut dengan berbagai jawaban yang kemudian membuat ruangan ini penuh dengan nostalgia.
"Karena waktu itu Ibu ngotot jaket itu akan kekecilan buat Dodo." kata salah satu temanku.
"Iya yah, waktu itu sih belum kekecilan. Sekarang pasti sudah kekecilan, buktinya Dodo ngga pernah pake lagi." jawab yang lainnya. Yang dibicarakan (Dodo) lantas tersenyum mengiyakan.
"Hehe... emanggg... udah ngga bisa terkunci kancingnya." katanya sambil tersipu...
"Dulu ngga segendut ini ya gue...." katanya kemudian.
"Yaa ampun... gue culun banget ya dulu...!!!" teriak yang seorang lainnya...
Selama kurang lebih 15 menit berlalu dengan penuh kata-kata 'dulu', 'waktu itu', 'coba waktu itu', 'pernah', dan 'untung waktu itu'. Tak ada yang menyadari... aku melihat pelajaran besar dari ini.
Tidak ada orang yang tak tertarik dengan masa lalu. Baik, buruk, menyenangkan, menyedihkan, banyak, dan sedikitnya tetap membuat orang tertarik... dengan atau tanpa ia mengakuinya... Sebagian menganggapnya harus terulang... namun lebih banyak yang berharap tak perlu terulang. Namun apapun itu, masa lalu adalah proses yang tanpanya kita tidak akan menjadi seperti adanya kita sekarang. Tak ada seorangpun dapat menyangkal itu. Masa lalu membuat kita dapat mengukur banyak hal yang ada di depan kita.
Sayang sekali masa lalu adalah 'benda mati', yang keberadaannya tidak bisa menentukan sendiri akan ke kanan atau ke kiri, akan maju atau mundur akan berlari atau berjalan... Ia tidak juga bisa membekukan kita, apalagi membuat kita bergerak lebih cepat..
Jadi adalah bodoh jika kita pikir masa lalu yang buruk dapat membuat kita berhenti menjadi lebih baik dan jika kita pikir masa lalu yang gemilang akan mendongrak kita menjadi lebih baik.
Kita lah yang menggerakkan mesin hidup, bukan masa lalu. Masa lalu tidak dapat membantu sedikitpun. Ia hanyalah pajangan dalam pikiran kita dan dalam segala cara dokumentasi manusia. Sayangnya, kita selalu tertarik dengan masa lalu karena kita pikir ia adalah benda hidup yang dapat menentukan hidup kita.
Masa lalu sebagai wanita cantik, kita pikir akan membuat kita tetap terlihat cantik di masa sekarang. Masa lalu sebagai orang kaya, membuat kita berpikir masih banyak orang yang mengyayangi kita. Masa lalu berada dalam keluarga pas-pas an membuat kita tidak pernah bermimpi untuk menjadi kaya.
Betapa menariknya untuk melihat kebelakang, karena banyak sekali kejadian yang telah kita alami. Kita sering membayangkan betapa KAYAnya masa lalu dengan begitu banyak peristiwa yang ia simpan. Pernahkan kita membayangkan betapa KAYA nya masa depan itu? Dengan peristiwa-peristiwa yang tak dapat kita hitung... mimpi-mimpi yang tak pernah bisa kita batasi, orang-orang yang tak dapat kita hitung akan datang dalam hidup kita. Betapa masa depan itu lebih kaya dari masa lalu. Kita memang hasil dari masa lalu tapi kita tidak selalu sama dengan masa lalu. Mari jadikan masa lalu sebuah pigura indah yang isinya tak lebih baik dari adanya kita sekarang.
Kamis, 29 Oktober 2009
SOMETHING MORE IMPORTANT

Setiap saat aku di berikan pilihan, untuk memikirkan apa yang ada di sekitarku atau memikirkan karya-karya Tuhan dalam hidup ku. Sering kali aku terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa, sosok-sosok dan kenyataan-kenyataan.
Kata-kata manusia membelenggu aku, seolah mereka adalah penentu hidup… Padahal, mulut dan lidah mereka pun masih harus bertanggung jawab pada Sang Pemberi Mulut & Lidah. Aku cukup kerepotan dengan itu semua sampai aku tak tahu harus berbuat apa. Tanganku mencari-cari tangan Tuhan, dan ketika aku berhasil menggapainya lalu menoleh padaNya, aku mendapati Ia tertawa geli memperhatikan kelakuanku.
Aku lantas merasa bodoh, lalu Ia menggiring aku pada setiap kenangan yang aku alami bersama Dia. Ketika Ia menarik aku dari jurang keputusasaan, ketika Ia mengapus air mataku, ketika Ia mengangkatku dari satu anak tangga ke anak tangga yang lebih tinggi. Aku juga sampai pada lusian perbuatan mengecewakan yang kubuat, dan mengingat saat Ia menghukumku lalu memaafkanku, kemudian menambahkan dalam hidupku lusinan kesempatan lagi.
Aku lalu menjadi begitu malu dengan perjalanan itu. Dapat kutangkap maksudNya sejauh itu. Betapa aku berharga bagiNya, tak dapat kuragukan itu… Betapa Ia mengasihi aku, rasanya bodoh untuk tak mengakuinya… Betapa Ia menginginkan yang terbaik bagiku, selalu nyata dalam perjalanan hidupku.
Bagaimana mungkin aku mengalihkan pandanganku dari semua berkat itu? Bagaimana mungkin aku bisa membandingkan semua itu dengan satu sampai sepuluh kata yang keluar dari hati-hati yang tidak mengasihiku? Bagaimana mungkin aku peduli pada hal lain sementara hidupku ini terlalu berharga untuk dinikmati?
Langkahku kemudian menjadi begitu ringan. Karena bagiku memikirkan apa kataNya mengenai hatiku jauh lebih penting daripada memikirkan apa kata manusia tentang hatiku.
Rabu, 28 Oktober 2009
R.E.S.P.O.N
Aku belajar bahwa hidup adalah rangkaian dari respon –respon yang telah kita buat. Suatu hari aku mendengar dan begitu damai mendengar sebuah kata ‘Bukan tentang Benar atau salah, tetapi tentang Respon’. Sebuah kata yang sungguh-sungguh netral ditengah kekuranganku sebagai manusia. Tak dapat aku bayangkan bagaimana hidup ini jika aku tak mengerti tentang satu pelajaran ini. Aku bersyukur karena menemukan hal ini ketika aku tahu betapa kurangnya aku ini.
Kira-kira begini rumusannya, apapun yang kita alami yang paling penting adalah respon yang kita berikan. Kita bisa saja melakukan hal benar, tapi ketika respon kita salah maka kita jadi pribadi yang salah. Atau kita melakukan hal yang salah, tapi ketika respon kita benar maka kita jadi pribadi yang dapat dibenarkan.
Respon itu ternyata sangat penting dalam semua proses yang terjadi dalam hidup kita. respon adalah siapa kita, respon adalah masa depan kita, dan respon adalah bagaimana orang lain mengingat hidup kita. Sesederhana itulah hidup sebenarnya, sesederhana memilih respon dan merasakan akibatnya. Kita bebas memilih dan menentukan sepeti apa rangkaiannya, sayangnya kita tak dapat menentukan seberapa panjang rangkaiannya. Waktu yang tak dapat kita ketahui, itulah yang membuat kita tidak main-main dengan respon-respon itu. Karena apa gunanya respon-respon yang benar ketika waktu kita habis dan kita sedang memberikan respon yang buruk, seburuk itulah dunia melihat kita.
Di usia ku yang hampir seperempat abad, aku dan begitu banyak orang dengan atau tanpa sadar telah belajar memberikan begitu banyak respon dari ribuan peristiwa dalam hidupku. Aku tak selalu berhasil memberikan respon yang baik, aku seringkali kalah dengan perasaan dan emosiku dan menghasilkan respon yang buruk. Namun secepat itulah aku mendapatkan hasil yang buruk pula. Aku menyebut hari-hari itu pelajaran berharga. Dan aku mulai belajar berkonsentrasi pada respon-responku. Ya, aku memilihnya dengan satu otak, satu tubuh, dan sepasang jari telunjukku. Aku tahu betul setiap resiko dan pilihan yang salah, walaupun untuk respon-respon yang baik aku berharap Tuhan yang memberikan hasilnya sebagai bonus.
Sehingga datanglah hari-hari dimana aku memilih memberikan respon yang baik, dan tak dapat kuungkapkan betapa respon-respon yang baik itu sering kali menanggung resiko yang panjang. Namun aku menyebut respon-respon yang baik sebagai ‘menabur’ yang jelas adalah ‘proyek jangka panjang’. Beberapa belum kutuai, karena mungkin aku menaburnya pada lahan tandus atau berbatu. Sebagian sudah kutuai, dan sungguh tak dapat kuukur manisnya hasil tuaian itu.
Respon-respon yang benar, yang kutabur dilahan-lahan subur…. Atau yang kutabur dilahan tandus, lalu terus-menerus kusirami air…. Aku semakin menikmati itu semua. Dan rasanya terlalu dini bagiku untuk menyerah…. Mengingat hasilnya begitu indah….
Selasa, 22 September 2009
Mudik Sungguh Tak Asik
Aku tak menyesali hari dimana aku tertarik untuk merasakan mudik lebaran. Sebuah fenomena yang (rasanya) hanya ada di Indonesia. Bagaimana suatu bangsa dapat disibukkan oleh fenomena ini... Mempengaruhi siklus perputaran uang negara, stabilitas keamanan negara, menentukan penyebaran penduduk dan banyak dampak lainnya. Aku sunggung ingin mendekatkan teropong ku untuk fenomena ini, melewati pengetahuanku tentang MUDIK yang kudapatkan di televisi.

Aku lalu memulai perjalananku dari Jakarta, jalur yang kupilih adalah jalur selatan karena sepengetahuanku jalur utara adalah sebuah jalur lurus dan sangat membosankan. Rasanya sangat ringan untuk memulainya, aku tak henti-henti bersenandung membayangkan alam yang akan ku tonton dan kota-kota menarik yang akan kusinggahi. Rasanya begitu bersemangat hingga kudapati pengalaman - pengalaman berikut.
Disetiap kota pastilah terdapat pasar tumpah / pasat kaget yang menyebabkan kemacetan hingga lebih dari 10km. Perilaku barang bawaan pemudik yang sungguh membuatku mengurut dada karena 'harta' mereka itu dimuat semuanya ke atas sepeda motor mereka dan dengan sama sekali tidak memperhitungkan keamanan mereka membawa anak - anak mereka untuk perjalanan berliku dan bermedan seram serta jarak yang tak kurang dari 200km.


Kelelahan yang kualami tentulah mereka alami... karena dapat dikatakan semua orang bergerak ke timur. Terdapat beberapa kota dimana semua pemudik harus melewati jalur itu sehingga terjadi kemacetan yang .... Oh tak dapat cukup kupaparkan dengan kata-kata... Kemacetan tak berujung dengan kondisi jalan yang sering rusak dan berliku... Semua jenis kendaraan ada disana, berbagai jenis nomor kendaraan menandakan pemudik yang (rasanya) berasal dari seluruh Indonesia. Alhasil kemacetan seperti ini dapat terjadi selama lebih dari 6 jam perjalanan dan dapat terjadi siang hari dan... yang tak terbayangkan... pada malam hari.

Sedikit lega rasanya mengingat di setiap kelelahan dan perhentian ada wagra setempat yang dapat meraih rejeki lewat makanan, minuman, tempat peristirahatan dan tentu saja... toilet.
Ketika aku mengakhiri perjalanan panjang itu... Tak dapat ku mengerti setiap orang melakukannya selama bertahun-tahun dan dengan kondisi mudik yang semakin buruk dari tahun ke tahun. Hanya untuk bertemu dengan keluarga dan orang-orang terkasih atau apapun motivasi penting yang dibawa dari Jakarta. Apakah lelah setahun dapat terhapus oleh lelah perjalanan mudik? Apakah pencapaian setahun dapat dilukiskan dengan dua hari berkumpul?
Sementara aku berhenti pada kata... KAPOK
Read More..
Aku lalu memulai perjalananku dari Jakarta, jalur yang kupilih adalah jalur selatan karena sepengetahuanku jalur utara adalah sebuah jalur lurus dan sangat membosankan. Rasanya sangat ringan untuk memulainya, aku tak henti-henti bersenandung membayangkan alam yang akan ku tonton dan kota-kota menarik yang akan kusinggahi. Rasanya begitu bersemangat hingga kudapati pengalaman - pengalaman berikut.
Disetiap kota pastilah terdapat pasar tumpah / pasat kaget yang menyebabkan kemacetan hingga lebih dari 10km. Perilaku barang bawaan pemudik yang sungguh membuatku mengurut dada karena 'harta' mereka itu dimuat semuanya ke atas sepeda motor mereka dan dengan sama sekali tidak memperhitungkan keamanan mereka membawa anak - anak mereka untuk perjalanan berliku dan bermedan seram serta jarak yang tak kurang dari 200km.
Kelelahan yang kualami tentulah mereka alami... karena dapat dikatakan semua orang bergerak ke timur. Terdapat beberapa kota dimana semua pemudik harus melewati jalur itu sehingga terjadi kemacetan yang .... Oh tak dapat cukup kupaparkan dengan kata-kata... Kemacetan tak berujung dengan kondisi jalan yang sering rusak dan berliku... Semua jenis kendaraan ada disana, berbagai jenis nomor kendaraan menandakan pemudik yang (rasanya) berasal dari seluruh Indonesia. Alhasil kemacetan seperti ini dapat terjadi selama lebih dari 6 jam perjalanan dan dapat terjadi siang hari dan... yang tak terbayangkan... pada malam hari.
Sedikit lega rasanya mengingat di setiap kelelahan dan perhentian ada wagra setempat yang dapat meraih rejeki lewat makanan, minuman, tempat peristirahatan dan tentu saja... toilet.
Ketika aku mengakhiri perjalanan panjang itu... Tak dapat ku mengerti setiap orang melakukannya selama bertahun-tahun dan dengan kondisi mudik yang semakin buruk dari tahun ke tahun. Hanya untuk bertemu dengan keluarga dan orang-orang terkasih atau apapun motivasi penting yang dibawa dari Jakarta. Apakah lelah setahun dapat terhapus oleh lelah perjalanan mudik? Apakah pencapaian setahun dapat dilukiskan dengan dua hari berkumpul?
Sementara aku berhenti pada kata... KAPOK
Senin, 17 Agustus 2009
Hadiah di Hari Kemerdekaan
Dapat dikatakan kisah hari ini adalah hadiah dari Tuhan khusus untukku di hari kemerdekaan negara ku tercinta... Indonesia...
Sebuah minggu siang nan terik yang membawaku pada sepenggal kisah masa lalu bangsaku... Oleh pertemuanku dengan sosok biasa yang mungkin tak dipandang sejarah, namun bagi ku memberi pelajaran berharga tentang arti dari sejarah...

Sebuah minggu siang nan terik yang membawaku pada sepenggal kisah masa lalu bangsaku... Oleh pertemuanku dengan sosok biasa yang mungkin tak dipandang sejarah, namun bagi ku memberi pelajaran berharga tentang arti dari sejarah...

Aku menjejakkan kaki di sebuah rumah mungil di sebuah kawasan yang ku tau adalah pemukiman keluarga angkatan bersenjata negeri ini.... Bukan yang pertama kali aku datang ke daerah ini, namun siapa sangka bawha rumah ini akan menjadi tempat aku belajar dalam hidupku...
Aku telah melihat sosok wanita tua itu saat pintu rumahnya terbuka, tak lama juga bagiku untuk menyadari bahwa ruang tamu itu telah juga menjadi kamar tidur untuk waktu yang lama. Ia menyambut kami dengan senyum sukacita ditengah kerut yang telah menguasai wajahnya... Ibu, begitu aku menyapanya...

Kami lalu larut dalam perbincangan yang tanpa ia sadari telah membuat mata, hati, dan telingaku tertarik untuk mengabadikan perbincangan ini.
Ayahnya dan suaminya adalah bagian dari sejarah negeri ini dan yang membuat wanita ini istimewa bagiku adalah, ia telah menjadi saksi para pejuang itu dan mampu merekam semangat pada jaman itu dalam jiwa wanitanya.

'Bapak saya itu pejuang RI, saya ingat betul... kakek saya yang adalah tentara KNIL sering menurunkan bendera merah putih dari tiang bendera di halaman rumah, namun selalu di naikkan kembali oleh Bapak saya.. Di rumah memang mereka bapak dan anak, tapi diluar mereka adalah musuh.' katanya sambil tersenyum geli mengenang masa itu. "Saya ingat betul suatu waktu di tahun 1945, Bapak saya yang sudah tua memanggil saya sebagai anak paling tua dan mengatakan 'Bapak tidak akan meninggal sebelum Indonesia merdeka, karena itu baik untuk anak mu dan cucu mu'. Dan benar akhirnya Bapak saya menginggal bulan September 1945." cerita itu berhenti dengan kaca di sepasang mata tuanya. Sementara itu dibelahan Indonesia lainnya, seorang pemuda telah bergabung dengan wajib militer untuk merebut kemerdekaan Indonesia, melakukan gerilya dan selamat dari sekian banyak perang menerjang maut.
Ibu lalu jatuh cinta pada pria ini, " Tapi jaman dulu pacarannya ndak seperti jaman sekarang. Jaman dulu kerjaannya nunggu surat dua bulan, deg-degan nunggu kekasih pulang atau sudah meninggal di medan perang." Kami semua tertawa mendengar kisah ini, kami menyadari dimensi waktu yang sama sekali berbeda antar Ibu dan kami. Kami tahu hal demikian dari film-film perang, namun hari ini kami berbicara langsung dengan pelakunya.
Tahun 1957 Ibu menikah dengan pejuang itu, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.

Perbincangan ini kemudian semakin mendalam ketika aku bertanya tentang pengalamannya menjadi istri tentara. "Huah... kenyang ditinggal.." komentar singkatnya ini membuat kami terbahak.
"Yaah... klo ditinggal tugas itu minimal tiga bulan, ndak peduli lai hamil atau baru melahirkan... wess pokoknya ditinggal" katanya sambil memperlihatkan barisan gigi sehatnya yang tak lagi lengkap.

" Suami saya itu angkatan tapi jujur... makanya yaa... cuma ada rumah dinas ini... klo rumah dinas ini diambil yo sudah... ndak ada tempat tinggal lagi."
kami semua terdiam untuk pernyataan ini.
Aku lalu mengalihkan pembicaraan pada sebuah foto yang tergantung didinding, "Itu suami saya, dan itu medali gerilya nya." Katanya sambil menunjuk pada medali yang dimaksudkan. "Wah berarti Ibu selalu ikut upacara detik-detik proklamasi ya di istana?" sambarku.
"Oh iya... tapi suami saya klo ikut upacara disana selalu nangis, dia inget waktu berjuang dulu." katanya sambil berkaca-kaca kembali. "Dulu mah orang jadi tentara untuk bela negara, tapi sekarang kebanyakan orang jadi tentara untuk bela kepentingannya sendiri." katanya sinis.
Ketika pembicaraan kami mengalir pada masa akhir hayat suaminya, wajah tua itu pun semakin sedih. "Suami saya meninggalnya baru tahun 2004, beliau pensiun dengan pangkat yang lumayan tinggi. Tapi karena beliau jujur jadi tidak banyak hartanya. Di sisa umurnya, dia sering mengusap-usap kepala saya dan berkata 'kasihan Ibu, jadi istri Bapak... jadi ndak pernah bisa jadi orang kaya'. Saya bilang, saya ndak pernah minta kaya kok Pak, saya sudah cukup bangga bisa jadi anak pejuang terus jadi istri tentara negara."
"Bapak dan suami saya sudah selesai dengan tugasnya, tapi kenapa yah anak dan cucu saya tetap saja sulit untuk sekedar dapat pekerjaan. Ternyata merdeka saja tidak cukup ya."
Kami semua tak mampu berkata-kata untuk ini...

Aku mengakhiri pertemuan sore itu dengan menyusuri tatapanku pada setiap sudut rumah dinas tua itu. Kesederhanaan yang menyimpan jutaan sejarah dan sejuta harapan. Rasanya lebih nyata dari sekedar menonton film perjuangan dan menyanyikan lagu kebangsaan. Inilah keadaan kemerdekaan itu ditangan para aktor dan para penontonnya. Sejuta pesan yang tak dibangun oleh satu atau dua hari setelah proklamasi. Melainkan dibangun oleh pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, diajarkan oleh banyak guru dan diterima oleh begitu banyak murid dari masa ke masa.
Saat kami pamit, Ibu Odelia (begitu namanya) membungkuskan bagi kami begitu banyak banyak pelajaran dan harapan. Kecantikan lawasnya sarat makna, membuat ia begitu berharga di masa ini...
Entah berapa banyak saksi sejarah yang dibutuhkan, untuk membuat sebuah kemerdekaan berharga bagi generasi ke generasi...
Read More..
Aku telah melihat sosok wanita tua itu saat pintu rumahnya terbuka, tak lama juga bagiku untuk menyadari bahwa ruang tamu itu telah juga menjadi kamar tidur untuk waktu yang lama. Ia menyambut kami dengan senyum sukacita ditengah kerut yang telah menguasai wajahnya... Ibu, begitu aku menyapanya...
Kami lalu larut dalam perbincangan yang tanpa ia sadari telah membuat mata, hati, dan telingaku tertarik untuk mengabadikan perbincangan ini.
Ayahnya dan suaminya adalah bagian dari sejarah negeri ini dan yang membuat wanita ini istimewa bagiku adalah, ia telah menjadi saksi para pejuang itu dan mampu merekam semangat pada jaman itu dalam jiwa wanitanya.

'Bapak saya itu pejuang RI, saya ingat betul... kakek saya yang adalah tentara KNIL sering menurunkan bendera merah putih dari tiang bendera di halaman rumah, namun selalu di naikkan kembali oleh Bapak saya.. Di rumah memang mereka bapak dan anak, tapi diluar mereka adalah musuh.' katanya sambil tersenyum geli mengenang masa itu. "Saya ingat betul suatu waktu di tahun 1945, Bapak saya yang sudah tua memanggil saya sebagai anak paling tua dan mengatakan 'Bapak tidak akan meninggal sebelum Indonesia merdeka, karena itu baik untuk anak mu dan cucu mu'. Dan benar akhirnya Bapak saya menginggal bulan September 1945." cerita itu berhenti dengan kaca di sepasang mata tuanya. Sementara itu dibelahan Indonesia lainnya, seorang pemuda telah bergabung dengan wajib militer untuk merebut kemerdekaan Indonesia, melakukan gerilya dan selamat dari sekian banyak perang menerjang maut.
Ibu lalu jatuh cinta pada pria ini, " Tapi jaman dulu pacarannya ndak seperti jaman sekarang. Jaman dulu kerjaannya nunggu surat dua bulan, deg-degan nunggu kekasih pulang atau sudah meninggal di medan perang." Kami semua tertawa mendengar kisah ini, kami menyadari dimensi waktu yang sama sekali berbeda antar Ibu dan kami. Kami tahu hal demikian dari film-film perang, namun hari ini kami berbicara langsung dengan pelakunya.
Tahun 1957 Ibu menikah dengan pejuang itu, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.
Perbincangan ini kemudian semakin mendalam ketika aku bertanya tentang pengalamannya menjadi istri tentara. "Huah... kenyang ditinggal.." komentar singkatnya ini membuat kami terbahak.
"Yaah... klo ditinggal tugas itu minimal tiga bulan, ndak peduli lai hamil atau baru melahirkan... wess pokoknya ditinggal" katanya sambil memperlihatkan barisan gigi sehatnya yang tak lagi lengkap.

" Suami saya itu angkatan tapi jujur... makanya yaa... cuma ada rumah dinas ini... klo rumah dinas ini diambil yo sudah... ndak ada tempat tinggal lagi."
kami semua terdiam untuk pernyataan ini.
Aku lalu mengalihkan pembicaraan pada sebuah foto yang tergantung didinding, "Itu suami saya, dan itu medali gerilya nya." Katanya sambil menunjuk pada medali yang dimaksudkan. "Wah berarti Ibu selalu ikut upacara detik-detik proklamasi ya di istana?" sambarku.
"Oh iya... tapi suami saya klo ikut upacara disana selalu nangis, dia inget waktu berjuang dulu." katanya sambil berkaca-kaca kembali. "Dulu mah orang jadi tentara untuk bela negara, tapi sekarang kebanyakan orang jadi tentara untuk bela kepentingannya sendiri." katanya sinis.
Ketika pembicaraan kami mengalir pada masa akhir hayat suaminya, wajah tua itu pun semakin sedih. "Suami saya meninggalnya baru tahun 2004, beliau pensiun dengan pangkat yang lumayan tinggi. Tapi karena beliau jujur jadi tidak banyak hartanya. Di sisa umurnya, dia sering mengusap-usap kepala saya dan berkata 'kasihan Ibu, jadi istri Bapak... jadi ndak pernah bisa jadi orang kaya'. Saya bilang, saya ndak pernah minta kaya kok Pak, saya sudah cukup bangga bisa jadi anak pejuang terus jadi istri tentara negara."
"Bapak dan suami saya sudah selesai dengan tugasnya, tapi kenapa yah anak dan cucu saya tetap saja sulit untuk sekedar dapat pekerjaan. Ternyata merdeka saja tidak cukup ya."
Kami semua tak mampu berkata-kata untuk ini...
Aku mengakhiri pertemuan sore itu dengan menyusuri tatapanku pada setiap sudut rumah dinas tua itu. Kesederhanaan yang menyimpan jutaan sejarah dan sejuta harapan. Rasanya lebih nyata dari sekedar menonton film perjuangan dan menyanyikan lagu kebangsaan. Inilah keadaan kemerdekaan itu ditangan para aktor dan para penontonnya. Sejuta pesan yang tak dibangun oleh satu atau dua hari setelah proklamasi. Melainkan dibangun oleh pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, diajarkan oleh banyak guru dan diterima oleh begitu banyak murid dari masa ke masa.
Saat kami pamit, Ibu Odelia (begitu namanya) membungkuskan bagi kami begitu banyak banyak pelajaran dan harapan. Kecantikan lawasnya sarat makna, membuat ia begitu berharga di masa ini...
Entah berapa banyak saksi sejarah yang dibutuhkan, untuk membuat sebuah kemerdekaan berharga bagi generasi ke generasi...
Senin, 22 Juni 2009
My Lost Black Blouse..
Tadi malam aku menemukan salah satu blouse favoritku yang sempat hilang karena terselip di lemari sepupuku. Aku ingat, sebagian bajuku memang disimpan disana.
Blouse hitam ini, dibelikan oleh tanteku sama persis dengan milik sepupuku, hanya saja warnanya berbeda (milikku hitam dan milik sepupuku coklat tua).
Yang membuat blouse ini berbeda adalah lengan bajunya yang mampu membuat siapa saja melihat dua kali kepadaku saat memakainya, untuk memastikan bahwa penglihatan mereka tidak salah.
Betapa tidak, lengan sebelah kirinya pendek dan lengan sebelah kanannya panjang. Sudah lama aku tidak memakainya dan sedikit bersemangat menanti reaksi orang-orang yang bertemu dengan ku.
Aku tidak sedang mencari perhatian dengan blouse ini, karena toh ini bukan model yang sedang 'in' saat ini.
Tapi setiap kali aku berkaca, aku suka melihat diriku memakai ini. Lengan kiri pendeknya tidak ada sambungan dan mengikat pas dilengan kiriku, aku suka sekali melihat caranya mengikat lengan kiriku. Terlebih karena ia menonjolkan tangan kiriku yang selalu mengenakan arloji pemberian papa dengan warna dasarnya yang hitam, senada dengan warna blouse ini. Tidak ada kerah keras, hanya kerah melebar kesamping nyaris dari ujung pundak kiri ke kanan.
Aku suka efek yang dihasilkan dari kerah dan lengan ini pada bahuku yang kini terlihat lebih bidang, memperlihatkan tulang leherku yang masih saja menonjol walaupun berat badanku bertambah 5kg dalam enam bulan ini.
Selain itu aku suka warna hitam ini, membuat wajahku yang malas kusapukan bedak terlihat lebih putih. Dan dengan rambut pendek tanggungku yang malas kugerai dan akhirnya kulipat, blouse ini membuat penampilanku akhirnya... terlihat klasik. Aku tidak sepenuhnya kecewa dengan respon kebanyakan orang tentang penampilanku hari ini. Karena saat aku keluar kantor untuk makan siang
Seorang satpam yang ramah padaku berkomentar ...
” Bajunya bikin keliatan seger nih, Mba Chonie.”
Sebenarnya... aku sedang tidak membuat artikel mode. Karena aku cuma mau bilang bahwa...
Asik rasanya melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk melihat hasilnya ketimbang mendengar tanggapan sekitar tentang apa yang kita lakukan.
Ini sering terjadi dalam hidupku, disaat aku memilih sesuatu yang sedikit membuat orang lain terhenyak dari kehidupan kebanyakan manusia.
Padahal mereka harus mengakui bahwa yang mereka lihat adalah sesuatu yang manis dan baik,
Hanya saja... BEDA.
Tapi untuk melakukan hal-hal seperti ini, kita harus mengetahui secara detail tentang apa yang akan kita lakukan. Kita harus mengujinya beberapa kali sebelum membiarkan orang lain mengetahuinya.
Dan terlebih, kita harus punya dukungan orang-orang yang netral untuk bisa maju dengan PERBEDAAN ini.
Aku tidak terganggu dengan lengan yang kanan, tidak membuat apapun yang dibungkusnya terlihat menarik. Tapi... aku anggap itu resiko...dari kepuasan yang kudapat dari lengan kiri ku.
Aku berjalan keluar dari kantor sore harinya, dan dengan senyum simpul aku bersiap menghadapi tatapan-tatapan yang belum menyetujui pilihan bajuku.
Tapi sebagian besar mereka mulai tersenyum dan mengangguk seolah berkata...
Warna hitam memang membuat kulit tampak lebih cerah. Lihat, apa lagi yang akan mereka akui esok...
Aku hanya perlu memberikan waktu bagi mereka untuk perpaling pada lengan kiriku dan setiap efek yang ada dalam pikiranku. Dan...
Semua akan baik-baik saja...
Read More..
Blouse hitam ini, dibelikan oleh tanteku sama persis dengan milik sepupuku, hanya saja warnanya berbeda (milikku hitam dan milik sepupuku coklat tua).
Yang membuat blouse ini berbeda adalah lengan bajunya yang mampu membuat siapa saja melihat dua kali kepadaku saat memakainya, untuk memastikan bahwa penglihatan mereka tidak salah.
Betapa tidak, lengan sebelah kirinya pendek dan lengan sebelah kanannya panjang. Sudah lama aku tidak memakainya dan sedikit bersemangat menanti reaksi orang-orang yang bertemu dengan ku.
Aku tidak sedang mencari perhatian dengan blouse ini, karena toh ini bukan model yang sedang 'in' saat ini.
Tapi setiap kali aku berkaca, aku suka melihat diriku memakai ini. Lengan kiri pendeknya tidak ada sambungan dan mengikat pas dilengan kiriku, aku suka sekali melihat caranya mengikat lengan kiriku. Terlebih karena ia menonjolkan tangan kiriku yang selalu mengenakan arloji pemberian papa dengan warna dasarnya yang hitam, senada dengan warna blouse ini. Tidak ada kerah keras, hanya kerah melebar kesamping nyaris dari ujung pundak kiri ke kanan.
Aku suka efek yang dihasilkan dari kerah dan lengan ini pada bahuku yang kini terlihat lebih bidang, memperlihatkan tulang leherku yang masih saja menonjol walaupun berat badanku bertambah 5kg dalam enam bulan ini.
Selain itu aku suka warna hitam ini, membuat wajahku yang malas kusapukan bedak terlihat lebih putih. Dan dengan rambut pendek tanggungku yang malas kugerai dan akhirnya kulipat, blouse ini membuat penampilanku akhirnya... terlihat klasik. Aku tidak sepenuhnya kecewa dengan respon kebanyakan orang tentang penampilanku hari ini. Karena saat aku keluar kantor untuk makan siang
Seorang satpam yang ramah padaku berkomentar ...
” Bajunya bikin keliatan seger nih, Mba Chonie.”
Sebenarnya... aku sedang tidak membuat artikel mode. Karena aku cuma mau bilang bahwa...
Asik rasanya melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk melihat hasilnya ketimbang mendengar tanggapan sekitar tentang apa yang kita lakukan.
Ini sering terjadi dalam hidupku, disaat aku memilih sesuatu yang sedikit membuat orang lain terhenyak dari kehidupan kebanyakan manusia.
Padahal mereka harus mengakui bahwa yang mereka lihat adalah sesuatu yang manis dan baik,
Hanya saja... BEDA.
Tapi untuk melakukan hal-hal seperti ini, kita harus mengetahui secara detail tentang apa yang akan kita lakukan. Kita harus mengujinya beberapa kali sebelum membiarkan orang lain mengetahuinya.
Dan terlebih, kita harus punya dukungan orang-orang yang netral untuk bisa maju dengan PERBEDAAN ini.
Aku tidak terganggu dengan lengan yang kanan, tidak membuat apapun yang dibungkusnya terlihat menarik. Tapi... aku anggap itu resiko...dari kepuasan yang kudapat dari lengan kiri ku.
Aku berjalan keluar dari kantor sore harinya, dan dengan senyum simpul aku bersiap menghadapi tatapan-tatapan yang belum menyetujui pilihan bajuku.
Tapi sebagian besar mereka mulai tersenyum dan mengangguk seolah berkata...
Warna hitam memang membuat kulit tampak lebih cerah. Lihat, apa lagi yang akan mereka akui esok...
Aku hanya perlu memberikan waktu bagi mereka untuk perpaling pada lengan kiriku dan setiap efek yang ada dalam pikiranku. Dan...
Semua akan baik-baik saja...
Father's Heart
Tadi malam, sebelum tidur...aku mencatat sesuatu tentang kepemimpinan. Semua orang rasanya punya paradigma alam bawah sadar yang sama mengenai seorang pemimpin. Seorang
Bapak/Papa/Ayah/Abi...atau siapaun sebutannya. Aku begitu terfokus pada 'tokoh yang ada dalam hidup semua orang'. Dengan atau tanpa disadari, gaya kepemimpinan seseorang dipengaruhi oleh 'tokoh' itu. Dan 'tokoh-tokoh' itu bisa saja salah dalam hal karakter, sifat, tindakan, keputusan,dan apa saja yang tampak.
Saat ini, aku dianugerahi posisi itu..posisi pemimpin, aku ingin memudahkan diriku...dan sebenarnya menjadi diriku sendiri dengan berkesimpulan bahwa
pemimpin adalah Bapak/Papa/Ayah/Abi... untuk siapapun yang ia pimpin.
Lalu aku kecewa, bahwa aku mungkin saja salah dalam hal karakter, sifat, tindakan, keputusan dan apa saja yang dapat kuperlihatkan pada siapa saja yang kupimpin kalau aku berkesimpulan demikian. Semua orang bisa salah dalam hal-hal yang tampak.
Aku lalu mencari, apa yg dimiliki 'para tokoh semua orang' yang tidak mungkin salah. Apa yang tidak tampak.... Ah yaaaaa...
Benar saja...!!! Apa yang tidak tampak... dalam 'tokoh semua orang' adalah HATI mereka...
Seorang bapak bentuk hatinya sama...
Tidak pernah (bahkan) terpikir untuk menghitung apa pun yang sudah pernah ia berikan kepada anaknya...
Selalu bermimpi anaknya menjadi lebih baik... dan tidak mungki merasa tersaingi oleh anaknya..
Memberikan selalu yang terbaik (walaupun seringkali dalam versinya)
Aku harus punya hati seorang pemimpin... hati seorang...
Bapak (bukan dalam arti feminis)...
aku hanya ingin hati mereka ada padaku...
Aku menangis cukup lama tadi malam, menyadari bahwa hatiku belum seperti itu...bahkan sampai aku jadi pemimpin... Aku teringat semua mereka yang aku pimpin... Waktu aku mulai berdoa untuk mereka... Aku tau, aku mulai meraih hati yang demikian untuk mereka...
Hey...
minimal dengan menulis ini... aku semakin menghayati...hati tokoh yang kumiliki...
Aku belajar lebih banyak dari hatinya... ketimbang dari apa yang ia tunjukkan...
Read More..
Bapak/Papa/Ayah/Abi...atau siapaun sebutannya. Aku begitu terfokus pada 'tokoh yang ada dalam hidup semua orang'. Dengan atau tanpa disadari, gaya kepemimpinan seseorang dipengaruhi oleh 'tokoh' itu. Dan 'tokoh-tokoh' itu bisa saja salah dalam hal karakter, sifat, tindakan, keputusan,dan apa saja yang tampak.
Saat ini, aku dianugerahi posisi itu..posisi pemimpin, aku ingin memudahkan diriku...dan sebenarnya menjadi diriku sendiri dengan berkesimpulan bahwa
pemimpin adalah Bapak/Papa/Ayah/Abi... untuk siapapun yang ia pimpin.
Lalu aku kecewa, bahwa aku mungkin saja salah dalam hal karakter, sifat, tindakan, keputusan dan apa saja yang dapat kuperlihatkan pada siapa saja yang kupimpin kalau aku berkesimpulan demikian. Semua orang bisa salah dalam hal-hal yang tampak.
Aku lalu mencari, apa yg dimiliki 'para tokoh semua orang' yang tidak mungkin salah. Apa yang tidak tampak.... Ah yaaaaa...
Benar saja...!!! Apa yang tidak tampak... dalam 'tokoh semua orang' adalah HATI mereka...
Seorang bapak bentuk hatinya sama...
Tidak pernah (bahkan) terpikir untuk menghitung apa pun yang sudah pernah ia berikan kepada anaknya...
Selalu bermimpi anaknya menjadi lebih baik... dan tidak mungki merasa tersaingi oleh anaknya..
Memberikan selalu yang terbaik (walaupun seringkali dalam versinya)
Aku harus punya hati seorang pemimpin... hati seorang...
Bapak (bukan dalam arti feminis)...
aku hanya ingin hati mereka ada padaku...
Aku menangis cukup lama tadi malam, menyadari bahwa hatiku belum seperti itu...bahkan sampai aku jadi pemimpin... Aku teringat semua mereka yang aku pimpin... Waktu aku mulai berdoa untuk mereka... Aku tau, aku mulai meraih hati yang demikian untuk mereka...
Hey...
minimal dengan menulis ini... aku semakin menghayati...hati tokoh yang kumiliki...
Aku belajar lebih banyak dari hatinya... ketimbang dari apa yang ia tunjukkan...
White (extrem) High Heels

Aku belum pernah merasa seberuntung ini. Betapa tidak! Begitu banyak pilihan!!! Wow...
Setiap hari, senang rasanya memperhatikan sosok wanita lain yang ada disekitarku, atau paling tidak dari banyak hal yang kuketahui. Dan semakin bertambah jumlah kami, semakin banyak pilihan yang dapat kami buat.
Di usia 22, aku memang belum memilih sebanyak ibu ku... Tapi aku lebih suka, dan itu bertambah semakin hari, jika aku memilih lebih banyak dari wanita seusiaku.
Yaa... Dalam hal memilih, memang semuanya tergantung dari sejauh mana kami sadar banyaknya pilihan yang dapat kami buat.
Persis seperti saat kami memilih high heels mana yang akan kami pakai, baju model apa yang akan kami pakai ke resepsi pernikahan A, atau pria seperti apa yang akan kami jadikan suami, ternyata... wow... kami memilih semakin banyak setiap harinya...
Di tengah-tengah para gadis dikampusku, aku memilih untuk jadi gadis semi-netral... untuk pilihan Memihak - Menilai - Semi Netral - Netral - Dinilai... Yaaah... mmang benar! Status Semi-netral itu kubuat sendiri. Aku menempatkan menilai dan dinilai bukan pada posisi mutlak. Karena.. aku bisa memilih... ada di posisi mana hari itu. Aku dapat memilih senyum seperti apa yang dapat kuberikan pada seseorang. Apa dia butuh senyum simpatik, senyum antusias, senyum menggoda (walaupun aku selalu menambahkannya dengan 'senyum-menggoda-tidak-lebih-dari-tiga-detik), senyum sekedarnya, dan hahahaha... sudahlah! Kami (wanita) sering menambahkan sendiri jenis2 senyum kami.
Dalam hal penampilan... aku bisa memilih lebih dari sekedar warna dan model. Aku bisa memilih bagaimana caraku berjalan dengan baju itu. Hmmm... aku suka pakai rok pendek, tapi aku tidak memilih menjadi 'gadis-dengan-rok-pendek-sebagai-satu-satunya-daya-tarik'. Aku memilih rok pendek, saat aku merasa hari itu aku layak memakai rok pendek karena suasana hatiku. Yaaah... aku memakai rok pendek untuk diri ku sendiri (itu berlaku untuk semua model baju, bukan hanya rok pendek).
Di kantor... aku memilih jadi 'wanita-muda-yang -belajar', bukan karena ke'anakbawanganku'. Tapi karena, aku sering diuntungkan dalam posisi ini. Terutama jika aku berbuat salah, walaupun aku tidak pernah menghindar untuk dimarahi. Rasanya, dimarahi membuatku semaki cerdas....
Dalam setiap peristiwa, aku dapat memilih makna didalamnya. Aku bisa memilih makna yang dalam, atau sekedar permukaan, sesuai keperluan. Ini penting, karena sedalam apa kita memilih makna, menentukan sebaik apa kita akan memberikan respon.
Dalam hidupku, aku memilih banyak... meski tidak semua seyakin aku memilih Tuhanku...
Pada akhirnya, aku banyak belajar memilih hal-hal apapun dari Dia. Karena rasanya, tidak ada yang lebih 'keren' dari pada memilih seperti caraNya.
Iya deh, aku masih sering salah memilih.
Tapi bagiku itu seperti memilih high heels putih dengan hak tinggi sekali, lalu berjalan dan terkilir. Minimal itu membantuku meyakini diri bahwa 'itu terlalu tinggi' dan Tuhan tertawa geli melihatku, dan sambil mengulurkan tangan dan membantuku berdiri, Ia berkata.....
"Ku bilang juga apa...."
Hidup itu pilihan... high heels tinggi warna putih, mungkin bukan pilihan terbaik. Tapi aku suka membelinya, karena apa yang aku pelajari dari membelinya....
(high heels warna putih : bukan makna yang sebenarnya)
APOLOGIZE

Ada satu hal yang wajib kita miliki bila kita ingin sungguh-sungguh dicintai oleh banyak orang.... Mencintai sebanyak mungkin orang. Apa yang paling mungkin dilakukan oleh cinta adalah pengertian yang luar biasa diluar apa yang pernah diharapkan oleh si penerima cinta. Karena jika melakukan itu terlalu sulit, maka mengerti adalah hal yang sangat mungkin.
Saat kita mencintai sebanyak mungkin orang yang dipertemukan dengan kita mengerti dapat dimulai dengan diam, mendengarkan dan memahami. Tidak demikian dengan yang aku lakukan hari ini. Saat kita mampu membuktikan bahwa kita bukan pendengar yang baik, maka kita juga dapat memastikan bahwa kita bukan seseorang yang paham apalagi mengerti.
Sering kali saat-saat santai dan baik-baik saja membuat kita libur untuk siaga atas pengertian yang mungkin saja dibutuhkan oleh orang-orang secara tiba-tiba. Lalu tiba-tiba kita mengungkapkan kata-kata, yang seolah-olah orang-orang disekitar kita adalah orang-orang yang sama 'baik-baik saja'nya dengan kita.
Sudahlah! Kenapa seringkali kita harus menunggu seseorang menangis tiba-tiba baru kita tahu bahwa kadang-kadang dunia tidak secerah yang kita kira, atau setidaknya hanya awan diatas kepala kita yang berwarna putih. Betapa kepekaan yang seharusnya sanggup diproduksi oleh cinta itu kadarnya berkurang. Kita sadar bahwa kita tidak cukup mengasihi orang lain, setidaknya kita tidak sampai pada standar itu. Kita seringkali hanya sampai pada batas peduli dan peduli itu ternyata sifatnya tidak siaga.
Ya ampun! Rasanya percuma menggembar-gemborkan kasih, cinta... Jika ternyata hanya ada stok... kepedulian.
Sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka bisa terjadi pada hati seseorang, kapan saja dan dimana saja kita berada. Dan kepekaan harusnya menjaga kata-kata, perilaku, (yang tampak), termasuk juga (paradigma, empati) yang tak tampak. Selebihnya, kata-kata "Maaf untuk ketidakpekaanku.." adalah sampul dari kata sebenarnya "Aku belajar banyak menelan lagi kata-kata diujung lidahku, dari tangismu..."
Jumat, 20 Maret 2009
Bisa Jadi... Ini adalah cikal bakal...
Pelajaran dari ini adalah, saat kita ingin melakukan sesuatu yang besar, periksalah apakah motivasi kita sebesar hal tersebut
Suatu hari, aku dan calon suamiku baru saja menikmati sebuah makan malam santai di sebuah pusat perbelanjaan daerah Kalibata. Ketika kami hampir mencapai eskalator kami mendapati seorang anak berusia tidak lebih dari 12 tahun sedang menebar dagangannya di pinggir eskalator dan melihat pada kami dengan tatapan 'ayolah mba, beli dagangan saya'... Entah dari mana ia mendapatkan ijin berdagang didalam pusat perbelanjaan... tidak menjadi bahasan saya kali ini. Tapi apa yang menjadi barang dagangannya yang membuat saya tertarik dengan anak ini. Ia menjual buku. Ya... setelah ratusan pedangang eceran anak-anak saya temui di ibukota Jakarta ini... anak ini menawarkan sesuatu yang berbeda... Saya katakan berbeda, karena yang ia dagangkan adalah sesuatu yang juga penting bagi dirinya.
Kami lalu 'memborong' dagangannya (yang hanya beberapa itu) sambil memenuhi rasa ingin tahu kami dengan mewawancarai anak itu. Belakangan kami mengetahui bahwa dagangan itu ia beli dari temannya dengan harga sangat miring. Buku... dengan harga sangat miring di masa ini adalah sesuatu yang... wow...
Sontak tanganku membalik buku itu dan mencoba menemukan organisasi dibalik ini. dan benar saja, aku menemukan sebuah sebuah gerakan independen yang menerbitkan buku-buku untuk dijual kembali. Ck... ck....
Syukurlah!!!!
Kembali ke anak tadi.... hmm... sensitifitasku muncul seketika, seperti biasa tanpa solusi... hanya iba.
Sepulangnya, aku lalu membahas dengan calon suami ku...topik 'apa yang dapat kita perbuat untuk anak-anak seperti itu'....
Kami lalu punya banyak ide.... dan tiggal menyusun pelaksanaan... Kami mulai dengan konsep... personil... teknis... dan detail....
Ini adalah sebuah pengakuan, ketika merencanakan semua itu... yang aku bayangkan adalah... berada dalam sebuah wawancara televisi dengan topik mengenai aksi sosial yang baru saja aku rancangkan...
Sampai hari ini... aku mengunjungi fasilitas dunia maya favoritku... Google...
Dengan sedikit rasa ingin tahu ku ketikkan kata kunci yang berhubungan dengan rancanganku.... Dan alangkah terkejutnya... program yang sama telah dilakukan oleh ratusan orang di negara ini... dan ribuan orang di dunia ini. Otomatis... harapan untuk di wawancarai pupus sudah. Sesuatu yang tidak pernah ku ucapkan, namun sering kubayangkan ketika mencanangkan kegiatan itu.
Aku kemudian sadar... itulah motivasi seseorang sesungguhnya... sesuatu yang ia bayangkan akan terjadi... bukan sesuatu yang ia katakan akan terjadi....
Aku hanya mampu tersenyum menertawakan diri sendiri....
Syukurlah secepat ini aku menyadarinya... Sebelum semua itu kulaksanakan dengan motifasi 'konyol' didalam alam bawah sadarku....
Read More..
Suatu hari, aku dan calon suamiku baru saja menikmati sebuah makan malam santai di sebuah pusat perbelanjaan daerah Kalibata. Ketika kami hampir mencapai eskalator kami mendapati seorang anak berusia tidak lebih dari 12 tahun sedang menebar dagangannya di pinggir eskalator dan melihat pada kami dengan tatapan 'ayolah mba, beli dagangan saya'... Entah dari mana ia mendapatkan ijin berdagang didalam pusat perbelanjaan... tidak menjadi bahasan saya kali ini. Tapi apa yang menjadi barang dagangannya yang membuat saya tertarik dengan anak ini. Ia menjual buku. Ya... setelah ratusan pedangang eceran anak-anak saya temui di ibukota Jakarta ini... anak ini menawarkan sesuatu yang berbeda... Saya katakan berbeda, karena yang ia dagangkan adalah sesuatu yang juga penting bagi dirinya.
Kami lalu 'memborong' dagangannya (yang hanya beberapa itu) sambil memenuhi rasa ingin tahu kami dengan mewawancarai anak itu. Belakangan kami mengetahui bahwa dagangan itu ia beli dari temannya dengan harga sangat miring. Buku... dengan harga sangat miring di masa ini adalah sesuatu yang... wow...
Sontak tanganku membalik buku itu dan mencoba menemukan organisasi dibalik ini. dan benar saja, aku menemukan sebuah sebuah gerakan independen yang menerbitkan buku-buku untuk dijual kembali. Ck... ck....
Syukurlah!!!!
Kembali ke anak tadi.... hmm... sensitifitasku muncul seketika, seperti biasa tanpa solusi... hanya iba.
Sepulangnya, aku lalu membahas dengan calon suami ku...topik 'apa yang dapat kita perbuat untuk anak-anak seperti itu'....
Kami lalu punya banyak ide.... dan tiggal menyusun pelaksanaan... Kami mulai dengan konsep... personil... teknis... dan detail....
Ini adalah sebuah pengakuan, ketika merencanakan semua itu... yang aku bayangkan adalah... berada dalam sebuah wawancara televisi dengan topik mengenai aksi sosial yang baru saja aku rancangkan...
Sampai hari ini... aku mengunjungi fasilitas dunia maya favoritku... Google...
Dengan sedikit rasa ingin tahu ku ketikkan kata kunci yang berhubungan dengan rancanganku.... Dan alangkah terkejutnya... program yang sama telah dilakukan oleh ratusan orang di negara ini... dan ribuan orang di dunia ini. Otomatis... harapan untuk di wawancarai pupus sudah. Sesuatu yang tidak pernah ku ucapkan, namun sering kubayangkan ketika mencanangkan kegiatan itu.
Aku kemudian sadar... itulah motivasi seseorang sesungguhnya... sesuatu yang ia bayangkan akan terjadi... bukan sesuatu yang ia katakan akan terjadi....
Aku hanya mampu tersenyum menertawakan diri sendiri....
Syukurlah secepat ini aku menyadarinya... Sebelum semua itu kulaksanakan dengan motifasi 'konyol' didalam alam bawah sadarku....
Rabu, 05 November 2008
Sebuah Pemberian
foto : satu set perlengkapan dari kayu dari mas kia
S ebelum membaca tulisan ini, pastikan kita pernah melakukan judul diatas... MEMBERI..
Apapun bentuknya!!! Entah sepotong kue, secarik kertas, atau satu unit mobil baru atau satu kalimat pujian kepada seseorang. Dan pastikan bahwa ada orang-orang yang pernah merasakan pemberian kita. Orang tua, pacar, suami, istri, teman, pengemis, atau pengamen. Kalau sudah, maka apa yang sering menjadi pembahasan dalam hal memberi adalah wujud pemberiannya.
'Mo beliin hadiah apa ya buat dia?' atau 'Enaknya kasih apa ya?' malah terkadang 'Ngga enak nih udah dua tahun dia ulang tahun gue ngga kasih kado, padahal dia selalu kasih kado.' (anda mungkin tersenyum karena pernah mengatakan itu semua)
Hari ini, mari kita bicara tentang 'pemberian yang terencana' dan menghindari waktu kita tersita untuk dua jam berkeliling di pusat perbelanjaan hanya untuk mencari alternatif pemberian kita, lalu akhirnya lelah dan 'memberi seadanya'.
Hanya ingin berbagi, inilah hal-hal yang saya temukan dalam pengalaman saya tentang 'pemberian' :
Apa yang harus diberi?
Apakah ini masalah? Seharusnya tidak jika kita mengenal orang yang akan menerima pemberian ini...
Saya selalu belajar dari bagaimana cara Tuhan memberi kita sesuatu yang 'kita butuhkan' yang terkadang bukan yang 'kita inginkan'.
Jika kita mengenal orang itu, tentu kita tahu apa yang ia butuhkan. Mungkin ia sendiri tidak tahu bahwa ia membutuhkannya, dan tidaklah salah jika kita membuat ia sadar bahwa ia membutuhkannya.
Kalau kita memperhatikan kehidupan seseorang, pasti kita menyadari bahwa dia selalu kerepotan dengan kunci-kuncinya yang sangat banyak, sehingga kita memberinya dompet kunci untuk mengorganisir kunci-kunci itu. Atau kita melihat kaos kakinya yang sudah berlubang dan membelikannya sepasang kaos kaki baru, melihat betapa sulitnya ia meraih uang receh saat membayar angkot lalu memberinya sebuah dompet kecil.
Kita bahkan dapat menyingkapkan potensi seseorang dengan pemberian kita. Betapa tidak? Pernahkah kita perhatikan, apa yang teman sebelah meja kita lakukan ketika ia sedang bosan? Ia mungkin mulai menggambar objek - objek tak terkira dibuku catatannya. Dan kita sendiri kagum dengan hasil-hasilnya. Lalu kita berikan dia satu set peralatan gambar yang kemudian menghasilkan karya-karya pertamanya karena 5 tahun kemudian ia menjadi seorang desainer terkenal.
Atau kita melihat bahwa ia tidak pernah berhenti menggunakan kamera sakunya untuk mengabadikan moment-moment tak terduga. Lalu kita membuatkan baginya sebuah website pribadi yang memuat hasil - hasil fotonya.
Apa yang tidak pernah dialami oleh seseorang dapat menjadi hadiah yang tak terlupakan. Bagi seorang yang tak pernah merayakan hari ulang tahun seumur hidupnya, maka sebuah perayaan kecil adalah hal yang akan membekas dalam hidupnya.
Melengkapi dan memperindah apa yang sudah ada. Apa yang kira-kira membuatnya kelihatan lebih cantik? Perhiasan seperti apa yang menonjolkan kulit indahnya? Tas kerja warna apa yang kira-kira cocok dengan jaket motornya? Topi apa yang cocok dengan wajah ovalnya?
Memperbaiki apa yang kurang. Kakinya cenderung 'O' jadi lebih baik belikan celana seperti apa?
Banyak orang mengatakan lebih mudah memilih hadiah untuk orang terdekat kita ketimbang teman kantor atau petugas keamanan kantor.
Seharusnya tidak!!!!!!! Karena jika kita merasa demikian, berarti kita tidak pernah memperhatikan kehidupan orang lain, bahkan dari detail yang kita lihat sehari-hari.
Harga sebuah pemberian?
Mahal atau tidak mahal?
Seharusnya kita tahu jawabannya jika kita mengerti dengan benar apa yang kita berikan berdasarkan hal diatas. Seberapa mahal itu ?
Sebuah pemberian yang berdasarkan pengetahuan terhadap si penerima hadiah, harganya sangat mahal semurah apapun nilai nominalnya. Sebuah pemberian yang tanpa didasari pengetahuan tentang orang yang menerima, sangat murahan semahal apapun nilai nominalnya.
Seberapa besar usaha untuk memberi?
Apakah kita mencari hadiah sambil berbelanja bulanan, atau kita khusus keluar rumah untuk itu? Apakah kita menyerah dalam mencari dan begitu mudahnya membeli alternatif diluar yang sudah kita rencanakan dari rumah?
Kita mungkin harus menghabiskan pulsa kita ketika harus menghubungi teman-teman yang ingin patungan dengan kita. Atau harus menjemput satu-persatu undangan dalam pesta kejutan kecil yang sudah kita persiapkan, harus menghabiskan satu sampai dua jam waktu tidur kita untuk membungkus kado, dan serangkaian perjalanan sampai si hadiah itu sampai ketangan atau dapat dirasakan oleh si penerima, semua itu berharga sangat mahal!!!!
Bagaimana dengan hati?
Pernahkah terlintas bahwa apa yang kita berikan adalah sesuatu 'nomer 2' bagi kita?
Misalnya jika kita ingin memberi peralatan make up kepada sesama teman wanita maka ia tidak boleh mendapatkan merek yang sama dengan kita atau paling tidak ia boleh mendapatkan kualitas nomer duanya. Atau jika kita membelikan pakaian kepada pembantu rumah tangga kita, kita pilihkan saja yang bahannya panas dan harga nya murah.
Kita yang menilai hati kita saat kita memberi... Apakah kita akan malu jika memberi dengan posisi hati demikian? Karena kita juga (kalau mau jujur) dapat menilai sendiri harga pemberian kita.
Kita sendiri juga yang memilih apakah sebuah pemberian akan sampai pada dikagumi, membekas dihati, atau yang tertinggi menjadi bagian sejarah hidup seseorang. Pilihan itu ada ditangan kita, dan waktu untuk memilih adalah sepanjang kita hidup...
Jadi, jika memberi itu tidak sulit... maka tuntutan untuk lebih banyak memberi daripada menerima pun tidak sulit...
Salam!!!
Langganan:
Postingan (Atom)