Selasa, 03 Mei 2011

Mr Someone atau Bapak Seseorang

Pagi ini adalah pagi yang biasa di kantor saya jika saja tidak terselip sebuah cerita pendek yang saya suka menceritakannya sebesar kesukaan saya pada nilai yang dikandungnya.

Berawal ketika saya menghampiri atasan saya (yang adalah seorang expatriat) untuk menyerahkan dokumen. Saat itu atasan saya sedang menuju ruang meeting. Setelah saya menyerahkan dokumen yang dimaksud, beliau mengucapkan terima kasih lalu mampir keruangan dibelakang kami untuk menyapa seorang expatriate lainnya yang juga adalah atasan kami dan menyapa beliau seperti ini;



"Hi Pak Francois... blablabla.." (saya hanya sempat mendengar demikian... selebihnya saya tidak perduli selain karena sudah menggunakan bahasa Inggris, juga karena kalau saya mendengar kelanjutannya maka saya telah 'sah' disebut menguping pembicaraan orang. Lalu apakah anda melihat ada yang istimewa disini?

Jika tidak, maka hanya ada dua kemungkinan;
  1. Saya punya rasa nasionalisme lebih besar dari anda atau
  2. Saya yang terlalu sensitif dengan kejadian-kejadian disekitar saya
Saya toh tidak rugi dengan kedua kemungkinan itu karena baik itu rasa nasionalisme atau sensitifitas berlebih tetap mampu membuat saya menulis nilai ini.

Baiklah. Mari kita samakan rasa dengan satu lagi cerita;

Suatu hari saya mendapatkan email dari seorang rekan expatriate juga yang bertugas di Bali dan dengan cara inilah ia menyapa saya;

From: Gregoire Morlaes
Sent: Thursday, March 10, 2011 6:54 PM
To: Chonie Prysillia Sigar


Dear Ibu Chonie,
Could you please prepare and send us the 3 following proforma invoices:
blablabla...

Bagi saya kedua kejadian tersebut istimewa karena seperti yang kita tahu bahwa sebuah panggilan adalah sebuah kebiasaan dan kebiasaan selalu dilatarbelakangi budaya, sedangkan budaya (dalam arena globalisasi) seringkali merupakan pilihan.

Menariknya, kantor saya dan expatriat-expatriat didalamnya memilih untuk menggunakan budaya itu, budaya Indonesia. Nyatalah bahwa (dalam hal ini) mereka menghargai kebudayaan kita dengan memilih kata 'Pak' atau 'Ibu' ketimbang Mr, Mrs atau Sir.

Bercermin dari hal itu, saya (atau mungkin anda) lalu begitu malu mengingat saya sendiri (saat berdiri ditanah nenek moyang saya) seringkali begitu 'sok keren' atau lebih kepada 'haus pengakuan' memanggil mereka dengan 'Sir' dan menyapa mereka dengan Mr. Someone.... ketika mereka menyebut diri mereka Bapak Seseorang...

4 komentar:

Dini Virginia mengatakan...

Aku suka tulisan yang ini mbak, dikantorku yg ekpatriat lebih suka dipanggil "mas" dari pada "sir" atau "mr" huehehe dan panggilan "mas" atau "mbak" buat mereka terlihat bangga.

Tapi kenapa di lingkungan yang pribumi suka sok-sokan manggil sesama pribumi dengan sebutan "sir" , suka geli lihat situasi kayak begitu :(

chonie mengatakan...

syukurlah ternyata karakter tersebut merata... tak hanya dikantorku...

well.. apapun itu... PR nya tetap ada pada kita kan... sebagai pribumi... ;p

~cheers

Kelompok Jago Tarung Yogyakarta mengatakan...

Hahahaha...menyenangkan sekali memiliki sahabat yang berpikiran terbuka dan memiliki pendirian. Akhir-akhir ini saya pun sedang banyak berhubungan dengan beberapa orang asing dalam kaitan aktivitas saya di seni rupa. Dan dalam komunikasi itu sebagian besar dalam bahasa Indonesia (apabila dalam keadaan terpaksa, saya baru mau mengalah untuk menjelaskan maksud perkataan saya dalam bahasa Inggris).

Inilah tanah air kita....hahahaha

Salam, Mbak Chonie

Dedi Yuniarto

chonie mengatakan...

Syukurlah kalau ada yang sependapat. (Semoga cukup banyak untuk mempertahankan budaya).

Terima kasih sudah mampir Mas Dedi. Sukses terus utk para Jago Tarung nya...

Salam,
~C~