Jumat, 22 April 2011

Seri Negara Dagelan 1 : Ladang Uang Baru

sumber gambar http://pilkadaponorogo.com/
*ilustrasi: http://unlimitedtourism.files.wordpress.com/2009/02/diskusi_wayang1.jpg
Hari ini tentu akan 'terlalu' indah jika saja tidak ada kejadian buruk di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Tapi saya tidak juga menyesalinya karena dengan demikian saya tidak akan terpikir untuk membuat Seri Negara Dagelan ini. Adapun kata dagelan hanyalah sebuah kiasan untuk menyampaikan berbagai kekecewaan dari apa yg terjadi pada bangsa ini. Dalam banyak hal mungkin saya tidak pernah tahu apakah ini dapat membuat perubahan, tapi saya pun tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dengan nasionalisme saya jika hal-hal ini tidak pernah saya tuangkan dari otak saya (minimal dalam bentuk tulisan). Dan kisah ini adalah kisah pertama dari seri 'Negara Dagelan'.
Kejadiannya bermula dari ide saya dan beberapa teman dekat untuk berwisata sederhana ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Hari ini adalah hari libur nasional dan kami terdiri dari beberapa keluarga juga beberapa lajang berkumpul di tempat yang dijanjikan. Setelah beberapa jam melakukan aktifitas di satu tempat, kami memutuskan untuk mengelilingi TMII. Tempat pertama yang menarik perhatian kami adalah Museum Transportasi. Museum Transportasi menyimpan beberapa alat transportasi kuno yag pernah digunakan di negara ini. 


Saat kami mengantri untuk membayar karcis masuk di loket tiba-tiba saya ditanya oleh petugas loket;

Petugas Loket : Berapa orang Bu?
Saya : Dua belas orang.
Petugas Loket : Mau foto-foto ya nanti di dalam? Kalau mau foto-foto kami punya tarifnya ya. (dengan nada memperingatkan)
Saya : Maksudnya? 
Petugas Loket : (mengeluarkan selembar kertas berlaminating berisi tarif-tarif untuk pengambilan gambar dan menyodorkan kepada saya)
Saya : (membaca isi kertas tersebut) 

Kira-kira begini isinya;
Foto Pribadi (satu orang dan satu objek) Rp 100,000
Foto Pre Wedding ( bla blabla dst...
Foto blablabla.... Rp 300,000

Saya tidak meneruskan membaca karena kondisi kami ada pada posisi foto pribadi. WHAT? Kami harus membayar seratus ribu untuk berfoto di museum?
Saya pun mulai kesal dan melanjutkan pembicaraan dengan si petugas;

Saya : Jadi kami tidak boleh foto nanti?
Petugas : Foto sih boleh tapi kami ada ketentuannya.
Saya : (melengos pergi dan berdiskusi dengan teman-teman lain)

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap masuk dan mengatakan 'tidak foto-foto didalam' sambil terheran-heran melihat mengapa masih banyak orang berkeliaran berfoto menggunakan beragam jenis kamera didalam area museum. Apakah mereka semua membayar sebesar itu? Rasanya tidak. Kami pun masuk dan mulai berfoto-foto dengan santainya. 
Sebagai catatan museum transportasi ini adalah museum luar ruangan yang sifatnya dapat diabadikan dengan foto dan bukan museum dalam ruangan yang memang umumnya tidak diperkenankan mengambil gambar.
Beberapa waktu kemudian datang petugas keamanan dan memperingatkan suami saya mengenai peraturan tadi;

Petugas Keamanan : Pak tadi kan sudah dibilangin kalau tidak boleh foto-foto kalau tidak bayar!
Suami saya : Loh, itu yang lain juga foto-foto. Memang mereka semua bayar? (sambil menunjuk salah satu pengunjung lain yang menggunakan kamera saku)
Petugas Keamanan : Iya, tapikan itu kamera kecil./
Suami saya : Lalu apa bedanya dengan kami? Kami ini juga hanya berlibur kesini. Kebetulan saja kami punyanya kamera besar.     Kami toh tidak foto pre wedding atau foto komersil lainnya.
Petugas Keamanan : Iya Pak, tapi saya hanya menjalankan tugas.

Aha! Kalimat pamungkas dari orang-orang yang mau saja disuruh ini dan itu tanpa mau mengerti alasannya.
Kami pun dengan kesal meng iya kan maksud Petugas itu dan melanjutkan kunjungan kami. Alhasil, kami adalah rombongan yang paling diuntit oleh Petugas Keamanan sampai akhir kunjungan kami di museum itu.
Inilah yang menjadi dagelan buat saya dan saya punya alasan mengapa ini sungguh lucu dan mengecewakan;
  • Ada di Negara Manakah Saya?
Tentu saya sedang berada di Indonesia; negara dimana saya menjadi warga negara. Lalu mengapa saya harus membayar hanya untuk mengambil gambar tentang negara saya. 
Saat itu teman saya Christin baru saja pulang dari Vietnam (negara orang) lantas mengkonfirmasi bahwa disana dia bisa berfoto dimana saja tanpa membayar. Nah, kini ketika dia mau berfoto di tanah airnya, ia harus membayar? Alangkah ironisnya.
  • Kepada Siapa Saya Membayar?
Disela-sela perdebatan suami saya dengan si petugas keamanan, suami saya sempat mengingatkan bahwa objek-objek itu milik negara. Namun seolah memiliki kuasa dari surga si petugas menjawab, " Oh sekarang sudah dikelola swasta Pak. Dikelola oleh PT blablabla..." 
Astaga!
Jadi ada oknum yang menggunakan aset sejarah bangsa untuk memalak kami yang pada dasarnya juga pemilik sejarah itu, yang pada saat itu justru ingin mengabadikan sejarah yang kami punya sebagai warga negara. 
Nyatanya oknum tersebut tentu telah kenyang dengan hasil palaknya, karena ketika kami perhatikan banyak orang (baca: warga negara) yang melakukan foto pre wedding dan foto komersil lainnya, yang dengan sukarela di palak karena kebutuhannya.
Bisa dikatakan oknum tersebut adalah oknum yang sadar tren gaya hidup, karena harus diakui tren foto digital telah membuat foto menjadi suatu kebutuhan yang untuknya (diwaktu-waktu tertentu) orang rela membayar berapapun tanpa mempertimbangkan rasionalitas sebuah monopoli. Nah, nyatalah bahwa di negeri ini mereka yang kaya adalah mereka yang dapat memanfaatkan tren gaya hidup untuk memonopoli rekan-rekan senegaranya.
  • Dimana Letak Kesalahan Kami?
Tentu saja kami tidak bersalah. Karena selain kami tidak punya niat sama sekali untuk merusak aset sejarah bangsa kami, objek-objek yang kami abadikan (dan kemungkinan besar akan kami publikasikan) bukanlah dokumen rahasia negara atau dokumen intelegen negara yang dengan mempublikasikannya dapat menggangu keamanan negara atau dampak buruk lainnya. 
  • Kalau kami membayar, apa yang kami dapat?
Jawabannya adalah tidak ada. Karena setelah kami menelusuri satu aset-aset sejarah tersebut kami mendapati mereka tidak dirawat apalagi ditambah. Bahkan gedung yang melangkapi outdoor muzeum itu nampak tidak pernah direnovasi sedikitnya dalam lima belas tahun terakhir. Sedih rasanya hati kami. Lalu apakah mereka yang telah kenyang dengan hasil palak atas aset sejarah tersebut merasakan kesedihan yang sama dengan kami? Tentu saja tidak.

Ini dagelan bagiku dan selayaknya.  dagelan tentu ada tokoh antagonis dan protagonisnya. Aku dapat tertawa bukan hanya oleh tokoh antagonisnya tapi juga tokoh protagonisnya. Ini nyata. Oknum tersebut adalah tokoh antagonis dan tak perlu diperdebatkan. Namun tokoh antagonis selalu bisa berkuasa jika ada kelemahan pada tokoh protagonis. Siapa tokoh protagonisnya? Kita. Ya.. KITA (WARGA NEGARA INDONESIA). Atau jika anda tidak ingin ikut dipersalahkan coba jawab pertanyaan dibawah ini;
Apakah anda akan membayar jika harus membuat foto pre wedding di lokasi tersebut?
Jika jawabannya YA maka andalah yang saya maksud dengan tokoh protagonis. Tokoh yang tetap berdiri pada kelemahannya, sehingga sang antagonis tetap berkuasa. Dalam hal ini rumus kelemahannya adalah;
PROTAGONIS       GAYA HIDUP (apapun) = KEBUTUHAN (harus)
ANTAGONIS          LADANG UANG BARU

Salam

3 komentar:

udeystar mengatakan...

HAMATANYA.... MUSIUM APA ITU !!!! PARAH BANGET THO !!!!.
*lane kali mending bawa hp robot ijo ajah buat photo2nya... jangan kamera yg besar kek gitu. ato mending kameranya di umpetin dulu.

Bulux mengatakan...

senasib kita kawan,,,,saya baru kemaren k meseum tersebut..cuman gara"kamera SLR.bisa kena charge..dan itu untuk tujuan pribadi bukan komersil..cuman untuk narsis"an..

susah gan,,,,gmn negara mau maju dan generasi muda kita mngetahui akan sejarahnya..jika ambil gambar saja dilarang huft...

Fajri Wahyudi mengatakan...

makasih sharenya. info bagus nih kalau dipasang di koran di redaksi pembaca