Kamis, 08 Maret 2012

Menjenguk Masa Jaya Stasiun Tanjung Priok



Hari ini saya teringat dengan sebuah perjalanan yang cukup mengesankan namun belum pernah saya bagikan lewat media apapun. Suatu sore di hari libur, pada bulan-bulan terakhir saya berada di Jakarta, saya dan suami mengunjungi suatu stasiun di daerah Jakarta Utara.
Namanya Stasiun Tanjung Priok. Kami tertarik untuk mengunjungi stasiun ini karena telah mendengar keberadaannya dari beberapa cerita orang, juga karena kami begitu senang mengunjungi situs-situs sejarah, dan karena ini adalah stasiun kereta api, objek yang selalu menggugah rasa penasaran kami.


Dulu sekali saya pernah mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa dan kali ini berniat menyempurnakan rasa ingin tahu kami terhadap stasiun-stasiun kereta api tua dengan menghampiri Stasiun Tanjung Priok. Berikut adalah apa yang kami dapatkan disana.

Matahari sore tak lagi menyengat ketika kami memasuki areal parkir Stasiun Tanjung Priok. Meski demikian angin laut begitu cepat terasa mengingat dimana kami berada saat itu, di daerah pelabuhan Tanjung Priok tentunya. Setelah menitipkan kendaraan pada petugas parkir, segera kami memulai penelusuran kami atas Stasiun Tanjung Priok.

Bahkan sejak berada di areal parkir, ciri bangunan bernuansa kubisme sudah terasa, tipe yang sering kita jumpai pada stasiun-stasiun dan bangunan peninggalan Belanda. Benar saja, stasiun ini dibangun pada tahun 1914, yaitu pada masa pemerintahan Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg. Tujuan dibangunnya Stasiun Tanjung Priok yaitu untuk menghubungkan para penumpang kapal yang baru saja berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok ke kawasan Batavia yang berada disebelah selatan. Kondisi daerah Tanjung Priok yang sebagian besar hutan dan rawa menjadikan pembangunan stasiun ini begitu penting. Seperti lazimnya sebuah stasiun, saat memasuki pintu utama kita akan menemukan lobby dan area loket penjualan tiket. Saya menyatakan lobby dan area penjualan tiket itu sangat luas, bahkan lebih luas dari lobby dan area penjualan tiket di Stasiun Jakarta Kota.

Mengingat sejarah dan tujuan dibangunnya stasiun Tanjung Priok, dapat dibayangkan betapa bergunanya lobby seluas itu. Saya lantas membayangkan, pada jaman dahulu puluhan kapal yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok setiap harinya dan seluruh penumpang kapal hanya punya satu tujuan yang sama; Batavia. Saat itu tentulah lobby dan tempat penjualan tiket itu penuh dengan meneer dan mevrouw asal negeri Belanda.


Sedangkan sore itu (dan mungkin juga hingga sore ini) hanya ada sekitar sepuluh orang mengantre tiket. Lobby itu terasa begitu luas dan lengang hingga saya mendapati sekelompok anak penumpang kereta bermain kejar-kejaran disana.




Memasuki area peron, saya semakin terkesima. Terdapat tak kurang dari delapan peron sehingga besarnya area peron ini dapat secara langsung dibandingkan dengan stasiun Jakarta Kota. Yang mengundang decak kagum saya adalah atap bajanya yang sangat megah dangan bentuk setengah silinder dan didominasi barisan kaca, sangat khas stasiun kereta api Eropa.



Tak percaya? Bandingkan saja dengan sebuah stasiun di Leipzig - Berlin pada link ini.


Kembali imajinasi saya berkelana membayangkan keramaian yang terjadi di stasiun ini pada masa Hindia Belanda. Adegan yang terputar di pikiran saya saat itu kira-kira mirip dengan adegan terakhir Harry Potter di stasiun King's Cross dimana semua orang dengan dandanan vintage saling melambaikan tangan. Ya, tentunya adegan itu pernah terjadi di Hindia Belanda, di Stasiun Tanjung Priok tepatnya. Begitu ramainya stasiun Tanjung Priok saat itu hingga saat dipertimbangkan pengadaan kereta listrik pertama di Hindia Belanda, stasiun inilah yang terpilih.


Saya lalu berjalan lebih jauh keujung peron dimana terdapat sebuah gardu pandang (yang dalam istilah PT. KAI disebut PPKA: Pengatur Perjalanan Kereta Api) yang sangat klasik. Bahkan dari bawah pun saya dapat melihat isinya berupa banyak sekali tuas-tuas yang sudah sangat tua. Haruskah saya berdoa bahwa tuas-tuas itu berumur sama dengan stasiun ini, lalu disaat yang sama membayangkan kinerjanya dengan usia setua itu?



Tak jauh dari gardu pandang tersebut, seperti bukan berada disebuah stasiun kereta api megah, saya kembali bertemu tempat pembuangan sampah liar dan beberapa pedagang kaki lima yang mangkal (persis) dipinggir rel. Saya pun meninggalkan era Hindia Belanda dan kembali ke.... Jakarta yang tua dan lelah.
Saat berjalan keluar dari area peron, saya menyadari bahwa sedari tadi saya hanya menyaksikan kedatangan dan keberangkatan satu kereta api saja. Ya benar, satu kereta api dari 8 peron yang tersedia. Saya pun maklum. Stasiun Tanjung Priok pernah tidak beroperasi selama sembilan tahun. Setelah beroperasi kembali pun stasiun ini hanya melayani tiga keberangkatan yaitu pukul 15.20 dengan tujuan Cirebon, Tegal, Pekalonga, Waleri, Semarang, Cepu, Bojonegoro, Lamongan dan Surabaya, pukul 08.30 dan 16.20 dengan tujuan Pasar Senen, Jatinegara, Klender, Cakung, Bekasi, Cikampek dan Purwakarta. Nyatalah bahwa stasiun Tanjung Priok telah kehilangan masa kejayaannya.



Saat menuju pintu keluar, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali menikmati konsep bangunan stasiun itu. Ia memiliki langit-langit yang sangat tinggi, garis-garis vertikal dan horizontal, serta panel-panel pintu dan jendela yang besar. Berdasarkan masa kejayaannya, tidak mengejutkan jika saya kemudian menemukan stasiun Tanjung Priok memiliki puluhan kamar penginapan dan sebuah restoran. Saya hanya tidak mengetahui, apakah ruangan-ruangan itu masih digunakan sesuai fungsinya atau tidak.

Saya pun melenggang kembali ke area parkir dan menoleh sekali lagi pada bangunan arsitektur karya Ir. C.W. Koch ini. Saya begitu terkesan dengan keberadaannya yang berdiri tegak di tengah letihnya kawasan Tanjung Priok. Ia pun tak terpengaruh dengan megahnya kapal-kapal sandar pada tetangganya, si pelabuhan. Ia tetaplah sebuah karya yang menikmati hari tua sambil berlindung nyaman dibalik kejayaan masa lampau. Layaknya seorang veteran yang telah berkontribusi besar bagi negerinya hingga kematian pun tak pernah begitu sia-sia baginya.

______________this is the original text__________________



Catatan;Para penjaga area peron tampaknya telah sadar dengan 'potensi forografi' St Tanjung Priok dan mulai mengkomersilkannya dengan ilegal. Jangan membawa kamera yang besar atau mencolok saat mengunjungi St Tanjung Priok, kecuali jika Anda memang telah menganggarkannya. Hingga saat saya berkunjung, belum ada ketentuan yang jelas mengenai pengambilan gambar. Jadi aksi 'kucing-kucing'an untuk sementara menjadi pilihan tunggal. Selamat berwisata.

2 komentar:

Pandu Aji Wirawan mengatakan...

penasaran sama stasiun buntu :o

ini jendelaku jendelapandu :D

chonie mengatakan...

Nanti kalo kita tiba2 punya wangsit berlibur ke Jakarta, bisa direalisasikan, Ndu.
;-)