Senin, 22 Juni 2009

Five People You Meet In Heaven



Kemarin, dua orang jadi saksi transaksiku dengan salah satu toko buku ternama Indonesia cabang Pondok Indah Mal untuk buku ini. Tarida, sepupuku yang pada saat yang sama hampir saja membeli novel lokal berjudul '5 cm', namun meletakkannya lagi karena mempertimbangkan ketebalan dan bobot buku yang hari -hari ini sedang tidak mampu ia cerna. Dan Yoel, teman kampusku yang sibuk mencari buku pengantar komunikasi, yang sebenarnya JUGA kubutuhkan, namun rasanya cukup Yoel saja tempat meminjam. Yoel yang bertanya mengapa kubeli buku ini, namun setelah kujelaskan dan ia membaca sinopsisnya toh tetap tidak tertarik. Dia barangkali bukan pembaca novel-novel perenungan seperti ini.

Kembali ke The Five Peoples You Meet In Heaven. Dulu sekali pernah ada yang merekomendasikan buku ini. Buatku dahulu, belum penting rasanya membeli buku ini karena api "Tuesday With Morrie" novel lain karangan Mitch Albom belum padam. Lagipula saat itu belum ada terjemahan Indonesia yang diterbitkan untuk buku ini. Aku bukan lagi seorang yang cukup punya waktu khusus dengan sebuah buku dengan kamus disisinya seperti dulu. Aku membaca ditempat-tempat yang 'khusus' seperti di bus, dan sebelum tidur itupun bila tugas kuliah tidak menyita waktu bacaku.
Tapi Eddie (tokoh utama dalam novel ini) yang sampai saat aku mengetik ini, baru bertemu dengan satu dari 5 orang yang harus ditemuinya di surga, mampu mencuri perhatian lebih dariku. Aku mulai memasang mata dengan setiap orang yang Tuhan kirim dalam hidupku, semua yang ada didepan mataku. Mengapa mereka ada? Apa gunanya mereka dalam hidupku? Positif atau negatif, aku tidak peduli. Aku lebih peduli pada misteri dibalik kehadiran mereka. Mitch benar, semua orang... berguna untuk hidupku. Bahkan yang tidak aku kenal, atau malah yang tidak aku sadari keberadaannya.
Tuhan terlalu bijak mengatur peran-peran setiap manusia untuk sesamanya manusia sehingga aku menyebutnya sebagai misteri. Mungkin Ia memakai sesorang yang menyebalkan untuk mengajari aku bagaimana bersikap, tapi disisi lain keteledoranku membuat seseorang diluar sana belajar banyak. Lebih berkuasa lagi ketika justru jika seseorang dipakai untuk menyelamatkan nyawa ku. Oh, betapa aku harus memasang mata hati dan pikiranku untuk SIAPA SAJA. Tidak ada lagi waktu unutk menyepelekan keberadaan seseorang dengan cara apapun. Karena sekali lagi aku bukanlah orang yang cukup berdaya untuk menentukan siapa yang akan menjadi malaikatku suatu hari.

Tidak ada komentar: